Skip to main content

Gara-Gara Ceroboh, Seekor Ular Kehilangan Kenikmatannya

Sebuah artikel dari atmosferku.blogspot.com yang berjudul Gara-Gara Ceroboh, Seekor Ular Kehilangan Kenikmatannya  semoga bermanfaat, sehingga menyadarkan kita untuk kembali pada Sang Pencipta, Allah.


Gara-Gara Ceroboh, Seekor Ular Kehilangan Kenikmatannya
Pict. From Google
Kemaren sehabis seminar tentang kewirausahaan di Kampus STIE Putra Bangsa, pulangnya saya mampir ke rumah sahabat. Ya sekedar ngobrol ngalor ngidul (ngobrol yang penting dan ndak penting). Memang kalau kita lagi ngobrol itu bisa lama, sampai waktupun kita cueki, tau tau sudah sore atau malam. Lagi asyiknya ngobrol masalah komunitas, ekh tiba-tiba ada suara…. Geethebuuuugg..Ciiit Ciiit.. 

     Dengan respon cepat mata langsung mengarahkan pandangan ke arah datangnya suara. Kita berdua langsung kaget dengan mata terbelalak, suara tersebut adalah suara ular yang jatuh dari atap rumahnya. Ular tersebut jatuh ketika sedang melilit tikus yang akan menjadi santapannya. Beruntung bagi tikus, dan rugi bagi ular, mungkin karena tikus meronta-ronta sehingga ular terlepas pegangannya dari atap. So, jatuh lah keduanya ke bawah. Setelah jatuh, dengan cepat tikus melepaskan diri dari ular yang masih kesakitan karena jatuh. Tikus berlari dengan sempoyongan, dan berhasil lari dari pemangsanya. Ular terlihat hanya terdiam menahan rasa sakit serta seperti bengong *Mungkin… hehe.. 

       Kita berdua pun segera menjari kayu atau bambu untuk mencutik ular tersebut, karena ukurannya yang cukup besar, sekitar jempol kaki orang dewasa lebih besar sedikit. Saat jatuh dan melihat, sahabat saya langsung berteriak, “awaaaasss yog, itu cobra. awas disembur”. Itulah kenapa kita kemudian mencari kayu atau bambu, biar fokus ular pada bambu sehingga tidak menyerang kita. Setelah berkeliling rumah, tidak juga menemukan bambu. Tapi akhirnya sahabat saya menemukan kayu, setelah dilutik pakai kayu tersebut, ternyata ular tersebut tidak menyerang dengan mendirikan kepalanya karena kalau cobra pasti akan memipihkan atau membuat kepalanya seperti bentuk sendok itulah kenapa ditempat saya ular cobra disebut juga dengan ular sendok. Ular tersebut hanya berkelit dan kemudian bergerak sembunyi dipojokkan, dibawah karung-karung. Itu ternyata hanya sejenis ular Sanca yang kebetulan lewat lagi nyari makan. Hehe… Akhirnya kita diamkan saja dan melanjutkan ngobrol lagi. 

     Dari kejadian ular dan tikus tersebut, dapatlah saya ibaratnya jika kebahagiaan bisa saja hilang dengan sekejap serta kesulitan bisa saja menjadi kemudahan atau kebahagiaan dengan sekejap pula. Seperti ular yang bahagia ketika mendapat mangsa seekor tikus, yang sedikit lagi menjadi isi perutnya. Sedangkan bagi tikus, sudah menjadi kesulitan yang sangat besar dan hampir tidak ada kemudahan. Tetapi apa coba? Ular terjatuh dan tikus bisa melarikan diri. Hanya karena ular ceroboh di atap ko tidak pegangan, ya jatuh lah… hehehe..^ ^  (Gara-Gara Ceroboh, Seekor Ular Kehilangan Kenikmatannya)

     Terkadang memang benar adanya, ujian kebahagiaan/ kenikmatan menjadikan kita melupakan banyak perkara. Saat kita bahagia yang dipikirkan hanya lah kesenangan kita, meluapkan keinginan, sehingga sering lupa akan pegangan kita. Seperti kata Allah, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (Qs. Al-Anbiya :35) 

     Disinilah celah kecerobohan manusia, melepaskan pegangan yang bisa membuat terjatuh dalam kesulitan. Barulah tatkala kita dalam kesulitan kita semakin memegang erat pegangan kita, pegangan yang utama, yakni pada Allah SWT.

             -  Lupa untuk bersyukur saat kita mendapat banyak bonus dari perusahaan 
             -  Lupa untuk bersyukur saat kita mendapat panggilan kerja 
             -  Lupa untuk bersyukur saat bisnis kita mulai berjalan 
             -  Lupa untuk bersyukur saat bisnis sudah mulai memberikan banyak keuntungan 
             -  Lupa untuk bersyukur saat-saat kita mendapatkan kebahagiaan yang lain. 

      Sesungguhnya segala sesuatu kenikmatan yang dirasakan di dunia ini berasal dari Allah, seperti yang tertuang dalam Al Qur’an, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl : 53) 

      Saat kita dalam kesulitan, barulah kita sadar dan sering bilang “kayaknya aku kurang bersyukur sehingga jadi seperti ini” atau “sepertinya aku banyak dosa, sehingga jadi begini”. Memang seperti itulah kita sebagai manusia, punya sifat yang sering sekali lalai atau pelupa. Itulah kenapa otak diciptakan dan diletakkan diposisi paling atas, tangan di bawah otak, nafsu di bawah tangan, dan kaki berada dipaling bawah. Karena Otak berada di atas maka harus memikirkan apa yang menuju ke Atas, Yang Maha Luas KuasaNya (berpikir yang baik-baik), sehingga tangan digerakkan untuk meraih segala NikmatNya, menengadahkan tangan untuk bersyukur atas segala NikmatNya, Mengelus dada untuk terus bersabar karenaNya. Ketika sudah sampai pada nafsu, control lah karena otak kita di atas, jika tak mampu segera gerakan kaki untuk meninggalkan segala nafsu tidak baik yang diciptakan syetan. Segeralah tinggalkan! 

    Begitupun ketika di uji dengan sebuah kesulitan. kata Allah bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Bagi orang-orang yang bersabar. Dua pegangan yang wajib kita pegang ketika kita diuji dengan sebuah kebahagiaan / kenikmatan dan kesulitan yaitu Bersyukur dan Bersabar.


Demikianlah puisi dari atmosferku.blogspot.com tentang Gara-Gara Ceroboh, Seekor Ular Kehilangan Kenikmatannya . Jika Anda menyukai dan bermanfaat informasi ini, mohon share dengan memberikan like, twit atau bekomentar di bawah ini sehingga bisa menjadi referensi bagi sahabat semua di jejaring sosial Anda. Terima kasih.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar