Skip to main content

Mengulik Obyek Wisata Keraton Yogyakarta

Artikel dari Atmosferku.com mengenai salah satu wisata di Yogyakarta berjudul Mengulik Obyek Wisata Keraton Yogyakarta. Semoga menjadi salah satu destinasi selanjutnya bagi pembaca untuk berpiknik sambil belajar bersama keluarga maupu sahabat terbaik para pembaca.

Bagian pintu masuk Keraton Jogja
Yogyakarta, siapa sih yang tidak mengenal satu-satunya daerah istimewa di Indonesia. Yaa, Yogyakarta merupakan daerah yang istimewa dengan masyarakatnya yang selalu bergotong royong untuk menjaga keistimewaannya. Banyak hal yang bakal ditemui di Yogyakarta, kultur budayanya yang mengagumkan, masyarakat pribumi yang ramah, wisata kuliner yang bermacam-macam, wisata museum, wisata alam, pendidikan, semua ada di provinsi yang mendapat julukan kota gudeg ini. Pada kesempatan kali ini, saya ingin menceritakan tentang wisata sejarah di Yogyakarta. Wisata ini merupakan tempat kesultanan Jogja, tempat yang sangat disakralkan, Keraton Yogyakarta namanya. Pasti sudah banyak yang mengenal tempat wisata ini, karena Yogyakarta selalu diidentikan dengan Keratonnya, Sultannya, dan Malioboronya.

Obyek wisata yang populer di Yogyakarta ini, dikunjungi banyak turis domestik maupun turis mancanegara karena sejarahnya. Tetapi yang disayangkan ketika saya masuk ke Keraton, ternyata turis dari mancanegara lah yang menjadi kebanyakan pengunjung, wisatawan lokal?entahlah. Apa karena mereka sangat menghargai dan keingintahuan yang besar akan budaya dan nilai-nilai sejarah ya??? akh saya juga tidak mengerti kenapa turis domestik kurang antusias. Padahal kalau mundur ke zaman penjajahan dulu, kota gudeg ini pernah menjadi ibukota negara serta menjadi kota yang aman dari penjajahan karena kesultanannya. Harusnya pelajar banyak mempelajari sejarah dengan berkunjung ke obyek wisata sejarah sehingga akan lebih menghargai.

Sejarah Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta ini berawal dari sejak abad ke 15 yaitu Kasultanan Yogyakarta dimulai tahun 1558 Masehi dimana Ki Ageng Pemanahan dihadiahi oleh Sultan Pajang sebuah wilayah di Mataram karena jasa-jasanya membantu Pajang mengalahkan Aryo Penangsang. Ki Ageng Pemanahan merupakan putra dari Ki Ageng Ngenis dan cucu dari Ki Ageng Selo, seorang tokoh ulama besar dari Selo, Kabupaten Grobogan.

Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1577 membangun istana di Pasargede atau Kotagede. Selama menempati wilayah pemberian Sultan Pajang, Ki Ageng Pemanahan tetap setia pada Sultan Pajang hingga akhirnya wafat pada tahun 1584 dan dimakamkan di sebelah Masjid Kotagede.

Selanjutnya kepemimpinan di Kotagede diteruskan oleh putranya yaitu Sutawijaya yang juga disebut Ngabehi Loring Pasar yang memang waktui itu rumahnya berada di sebelah utara pasar. Kepemimpinan Sutawijaya berbeda dengan ayahnya yaitu menolak tunduk pada Sultan Pajang.

Melihat ketidakpatuhan Sutawijaya tersebut, kerajaan Pajang merencanakan merebut kembali kekuasaanya di Mataram . Selanjutnya pada tahun 1587 kerajaan Pajang menyerang Mataram dan terjadilah pertempuran yang hebat. Dalam pertempuran ini justru pasukan Pajang mengalami kekalahan karena diterjang badai letusan Gunung Merapi sedangkan Sutawijaya dan pasukannya bisa menyingkir dan akhirnya selamat.

Selanjutnya pada tahun 1588 Mataram menjadi kerajaan dan Sutawijjaya diangkat menjadi sultan yang bergelar Panembahan Senopati atau Senopati Ingalaga Sayidin Penatagama. Arti dari nama tersebut merupakan ulama yang menjadi pengatur dari kehidupan beragama yang berada dalam kerajaan Mataram dan berarti sebagai panglima perang.

Untuk memperkuat legitimasi dalam kekuasaanya, Panembahan Senopati tetap menggunakan dan mewarisi tradisi yang dilakukan kerajaan Pajang dalam mengatur kekuasaanya atas seluruh wilayahnya di Pulau Jawa.

Waktu terus berjalan dan akhirnya pada tahun 1601 Panembahan Senopati wafat dan selanjutnya kepemimpinannya diteruskan oleh puteranya yang bernama Mas Jolang yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Senopati Seda Ing Krapyak. Setelah Mas Jolang wafat kemudian diteruskan oleh Pangeran Arya Martapura. Karena beliau sering sakit maka digantikan oleh kakaknya yaitu Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati Ingalaga Abdurrahman yang dikenal dengan sebutan Prabu Pandita Hanyakrakusuma atau Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Kerajaan Mataram pada masa kepemimpinan Sultan Agung mengalami perkembangan yang cukup pesat sehingga kehidupan rakyat pada waktu itu hidup makmur dan tenteram. Selanjutnya pada tahun 1645 Sultan Agung wafat dan diteruskan oleh puteranya yang bernama Amangkurat I.

Sewaktu dipimpin puteranya tersebut kerajaan Mataram banyak mengalami kemerosotan yang luar biasa karena terjadi perpecahan diantara keluarga kerajaan Mataram sendiri yang akhirnya perpecahan tersebut dimanfaatkan oleh VOC untuk campur tangan.

Perpecahan tersebut selanjutnya diakhiri pada tanggal 13 Februari 1755 dengan diadakannya perjanjian Giyanti yang berisi kerajaan Mataram dibagi 2 yaitu menjadi Kesunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Perjanjian Giyanti memutuskan Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Abdul Rakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Semenjak itu Pangeran Mangkubumi resmi diangkat menjadi Sultan pertama di Yogyakarta yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Berikut ini parra Sultan yang pernah menjadi raja di keraton Yogyakarta :

Sri Sultan Hamengku Buwono I ( 1755-1792 )

Sri Sultan Hamengku Buwono II ( 1792-1810 )

Sri Sultan Hamengku Buwono III ( 1810-1813 )

Sri Sultan Hamengku Buwono IV ( 1814-1822 )

Sri Sultan Hamengku Buwono V ( 1822-1855 )

Sri Sultan Hamengku Buwono VI ( 1855-1877 )

Sri Sultan Hamengku Buwono VII ( 1877-1921 )

Sri Sultan Hamengku Buwono VIII ( 1921-1939 )

Sri Sultan Hamengku Buwono IX ( 1939-1988 )

Sri Sultan Hamengku Buwono X ( 1988- sekarang )

Lingkungan Keraton Yogyakarta disusun secara konsetrik yang merupakan tata ruang keraton yang tediri dari :

  • Lapis terluar : Dalam lapisan ini terdapat alun-alun Selatan dengan segala perlengkapannya yang terdiri dari Alun-alun utara dengan Masjid Agung, Pekapalan, Pegelaran dan Pasar. Sedangkan Alun-alun Selatan terdiri dari Kandang Gajah Kepatihan yang merupakan sarana birokrasi dan benteng sebagai sarana pertahanan militer.

  • Lapis kedua yang terdiri dari : Siti Hinggil yang merupakan halaman yang disebut juga pelataran yang ditinggikan yang berada di sebelah utara dan selatan. Siti Hinggil Utara terdapat tempat yang bernama bangsal Witana dan bangsal Maguntur Tangkil. Tempat ini digunakan untuk upacara kenegaraan. Siti Hinggil Selatan sering dipergunakan untuk kepentingan Sultan yang bersifat pribadi misalnya menyaksikan latihan para prajurit hingga adu macan dengan manusia (rampogan) atau banteng. Bagian terakhir dari lapisan ini adalah Supit Urang / Pemengkang yang merupakan jalan yang mengitari Siti Hinggil.
  • Lapis ketiga Keraton Yogyakarta terdiri dari Pelataran Kemadhungan Utara dan Selatan. Pelataran Kemadhungan digunakan untuk ruang transit menuju ruang utama. Pada pelataran Kemadhungan Utara terdapat bangsal yang bernama Pancaniti dan pada pelataran Kemadhungan Selatan terdapat bangsal Kemadhungan.
  • Lapis ke empat berdiri Pelataran Sri Manganti dan bangsal Sri Manganti yang dipergunakan untuk ruang tunggu sebelum menghadap raja. Di bangsal ini terdapat bangsal Trajumas yang terletak di sisi utara Pelataran Kemagangan sedangkan bangsal kemagangan berada dio sebalah selatan. Bangsal ini diperunakan sebagai tempat transit terakiti sebelum ke pusat Istanan.
  • Lapis terakhir adalah pusat konsentrik yag terdapat pelataran Kedhaton. Tata ruang dari yang tersusun oleh bangunan yang terdiri dari tratag, pendhopo, pringgitan.

Setiap pelataran tesebut dihubungkan oleh benteng yang kuat dan dihubungkan oleh gerbang.. Gerbang tersebut jumlahnya ada sembilan, sembilan pelataran terdapat 9 pintu gerbang.

Gerbang Pangurakan

Gerbang Brajanala

Gerbang Srimanganti

Gerbang Danapratapa

Gerbang Kemangangan

Gerbang Gadung Mlathi

Gerbang Kemandhungan

Gerbang Gading

Gerbang Tarub Agung

Dilihat dari jumlah pelataran dan gerbang yang berjumlah sembilan yang menyimbolkan kesempurnaan sebagai alegori dari sembilan lubang yang terdapat pada manusia. Keraton dibangun berdasar sumbu imajiner utara-selatan berperan sebagai sumbu primer dan sumbu barat-timur berperan sebagai sumbu sekunder.

Dalam aktivitas kehidupan di Keraton, Sultan merupakan figur nomor satu, sebagai wakil Tuhan dari bumi, berkuasa dalam militer dan keagamaan. ( Senopati Ingalaga Nagabdul Rahman Sayidina Panatagama Kalifatullah ). Oleh karena itu sosok Sultan dianggap sakral, begitu juga dalam kegiatan yang dilakukannya. Demikian juga dengan setiap ruang keraton dan tata ruangnya memiliki kesakralan tersendiri.

Kesakralan yang terdapat pada ruang dalam keraton mempunyai kesakralan tersendiri yang mengartikan frekwensi kegiatan Sultan pada tempat tersebut. Di Alun-alun, Siti Hinggil dan Pagelaran, Sultan berkunjung ketempat tersebut hanya 3 kali dalam setahun, yaitu pada acara saat Pisowanan Ageng Grebeg Mulud, Sawal dan Besar. Serta pada saat kesempatan khusus pada penobatan Sultan dan Putra Mahkota/Pangeran Adipati Anom.

Kegiatan Sultan lebih intensif di Kemandhungan dimana pada pelataran ini berada Bangsal Pancaniti yang berarti harfiah ( memeriksa lima ). Ditempat ini Sultan menyelesaikan berbagai persoalan perkara yang harus ditangani raja. Bangsal ini juga dipakai abdi dalem menunggu untuk menghadap Sultan.

Pelataran Srimanganti diperuntukkan untuk menerima tamu yang tidak terlalu formal. Di tempat ini Sultan HB II menulis dan membacakan buku kramat Serat Suryaraja di depan para punggawa kerajaan.

Pelataran Kedaton merupakan tempat yang mempunyai kesakralan paling tinggi. Di pusat tempat tersebut digunakan untuk menyimpan pusaka milik Keraton.

Prabayeksa dan Kencana dipakai sebagai tempat Sultan bertahta sepanjang tahun dan tempat menerima tamu-tamu penting.

Banyak benda-benda peninggalan dalam keraton yang banyak menyimpan cerita sejarah yang berguna untuk tujuan penelitian dan referensi yang berguna pengetahuan generasi penerus bangsa. Benda-benda tersebut seperti perpustakaan yang menyimpan naskah kuno, pusaka kerajaan dan museum foto yang menyimpan koleksi foto raja-raja di Yogyakarta, keluarga dan kerabatanya. Upacara tradisional pun secara rutin dilaksanakan untuk melestarikan kebudayaan leluhur seperti jamasan ( memandikan pusaka dan kereta kerajaan ) dan Grebeg Maulud.

Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih dikenal dengan nama Keraton Yogyakarta merupakan museum hidup bagi kebudayaan Jawa yang berada di Yogyakarta dan menjadi pusat perkembangan kebudayaan Jawa. Para wisatawan dapat menyaksikan dan belajar secara langsung bagaimana budaya jawa tersebut dijaga dan dilestarikan di Keraton Yogyakarta. Keraton Yogyakarta dibangun Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755 , beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Keraton Yogyakarta didirikan dan menjadi garis imajiner yang merupakan garis lurus yang menghubungkan Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis.

Berikut beberapa View di Keraton Yogyakarta :

Patung penjaga gerbang masuk Keraton Jogja

Memasuki Keraton Yogyakarta, para pengunjung akan disambung oleh patung penjaga gerbang keraton.  Patung seorang bapak yang duduk bersila, dan terlihat begitu ramah dan sopan. Patung tersebut seperti berbicara "Monggo, sugeng rawuh (silahkan, selamat datang)" dan ketika mau keluar patung tersebut seperti berbicara dengan ramahnya "matur nuwun atas rawuhipun, mugi-mugi berkah (terima kasih atas kedatangannya, semoga berkah)". Semua terlihat dari mimik kesopanan yang ditunjukkan patung tersebut. Aaakh, ini sih suka-suka saya saja yang menulis artikel ini, hehehe...

Bergaya sungkem sebelum masuk ke Keraton Yogyakarta

Banyak dari pengunjung, termasuk saya untuk memanfaatkan berfoto bareng dengan patung bapak penjaga keraton yogyakarta. Foto diatas menunjukkan keakrabam saya dengan patung bapak penjaga gerbang keraton. Saya bercakap-cakap ringan tentang sudah berapa lama bapak penjaga duduk bersila seperti itu. Hehehe.... ada-ada saja, seperti orang waras saja.. ^ ^

Pengunjung tidak boleh melewatkan momen seperti itu jika berkunjung ke keraton yogyakarta. Jika yang belum pernah, ayoooo buruan, ke keraton yogyakarta... Sejarah menunggumu, untuk kamu pahami bukan kamu campakkan!!

apa ya ini, semacam aula tempat berkumpul Sultan dan abdinya
Singgasana Sri Sultan

Ini merupakan Prabayeksa dan Kencana dipakai sebagai tempat Sultan bertahta sepanjang tahun dan tempat menerima tamu-tamu penting.

Lorong-lorong menuju ruangan-ruangan lain di Keraton Yogyakarta
Gerbang masuk kesalah satu ruangan di Keraton Yogyakarta

Foto diatas merupakan lorong-lorong dan gerbang-gerbang menuju ruangan atau tempat-tempat di keraton jogja.

Untuk museumnya berisi tentang foto-foto sultan tiap generasi, foto kereta-kereta kuda yang dipakai keraton, serta alat musik gamelan serta foto-foto kegiatan masyarakat di keraton.

Alat musik yang dipakai dari dulu sampai dengan sekarang ketika ada acara

Acara budaya yang ada di Keraton Yogyakarta
Kereta yang dipakai Sri Sultan
Kereta yang dipakai Sri Sultan
Ketika pengunjung keluar, akan ada beberapa orang yang menawarkan fasilitas menaiki becak untuk menuju tempat-tempat seperti ke toko kaos khas jogja "dagadu", ke tempat pembuatan bakpia,  sentra batik, dan museum kereta yogyakarta. Pengunjung jangan kaget, di museum kereta jangan dibayangkan kereta-kereta bermesin, disini keretanya merupakan kereta kuda zaman dahulu yang digunakan pejabat keraton.

Lokasi Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta berlokasi di pusat kota Yogyakarta. Halaman depan Keraton berupa Alun-alun Utara Yogyakarta dan halaman belakang Keraton berupa Alun-alun Selatan Yogyakarta.

Untuk menuju lokasi Keraton sangat mudah, karena dilalui banyak angkutan umum termasuk transjogja. 

Tiket Masuk Keraton Yogyakarta
 Untuk harga tiket masuk juga sangat terjangkau:

- Tiket masuk : Rp 5.000,- / orang
- Ijin Foto/video : Rp 2.000,-
- Berkeliling dengan becak : Rp 10.000,-

Jangan lupa kunjungi tempat-tempat sejarah lainnya di Indonesia ya, Berwisata sejarah itu menyenangkan. Dan satu lagi jangan membuang sampah sembarangan di tempat wisata. #NyampahSembaranganGaAsik

Pustaka : Njogja.co.id


Oleh Yogi Permana | IG: @permanaglobal  | Twitter: @permanaglobal

Demikianlah artikel dari atmosferku.com mengenai Mengulik Obyek Wisata Keraton Yogyakarta Semoga dapat menambah pengetahuan tentang wisata di Indonesia dan Kebumen pada khususnya. Jika Anda menyukai informasi ini, mohon share dengan memberikan like, twit atau bekomentar di bawah ini sehingga bisa menjadi referensi bagi teman jejaring sosial Anda. Terima kasih.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar