Skip to main content

Hari Raya Idul Adha, Menyingkirkan Kampret dan Cebong

Hari Raya Idul Adha, Menyingkirkan Kampret dan Cebong
src. menara62.com
Hari Raya Idul Adha, Menyingkirkan Kampret dan Cebong - Percaya tidak percaya pasca pilpres masih terjadi perdebatan dan penyebaran isu-isu untuk saling menjatuhkan. Itulah yang saya rasakan selama menjadi penikmat sosial media. Bermacam hoax, bermacam isu, saling dilontarkan untuk menjatuhkan satu sama lainnya. Ini sungguh memuakkan.

Tapi apa boleh buat, itu semua emang sedang dialami Bangsa ini, agar tidak memikirkan perkembangan untuk kemajuan yang lebih baik. Masih banyak permainan lainnya untuk menghentikan Negara ini maju, cukup jadi berkembang untuk selamanya. Semua karena potensi Negara +62 untuk menjadikannya uang bagi mereka.

Hari Raya Idul Adha, Menyingkirkan Kampret dan Cebong


Sampai terbentuknya 2 Kubu, entah ini sebuah skenario atau bukan, saya kurang mengetahui. Dari 2014 selalu terbentuk 2 Kubu. Jika nanti 2024 ada 2 Kubu lagi, berarti ini semacam skenario. Agar Bangsa ini terpecah.

Pusing kalau ngomongin itu, skenario skenario dan sebagainya. Dibalik itu semua, sebenarnya masih banyak hal yang bisa menyatukan selain mengamalkan Pancasila. Contoh simpel dan itu sudah terjadi tiap tahunnya adalah effek dari Hari Raya Idul Adha. Apa hubungannya dengan Persatuan?

Baca Juga : Geliat Masjid Jogja dan Takmir Fresh dari Mahasiswa


Jadi gini, setiap hari raya Idul Adha pasti ada yang namanya Qurban, atau mempersembahkan hewan qurban untuk disembelih. Mulai dari Kambing, Sapi, atau Unta. Tinggal kemampuan dan keikhlasan kita yang mana. Kalau belum ikhlas tapi sudah mampu, ya dipaksakan saja. Hehe...

Nah, dalam proses penyempelihan, pembersihan, packing, dan pembagian daging qurban ini yang begitu nikmat rasanya. Tidak ada yang namanya Kampret maupun Cebong. Semua dari ketulusan hati, menyatu dalam satu tempat, saling bekerja sama.

Hari Raya Idul Adha, Menyingkirkan Kampret dan Cebong

Ada yang bersihin dan memotong kaki, ada yang bersihin dan memotong kepalanya, ada yang bersihin dan memotong badannya, dan ada yang bersihin jeroannya termasuk kotorannya. Semua tidak perlu ada yang mengatur, sudah tau mana yang bisa dikerjakan dan mana yang belum dikerjakan.

Ditengah-tengah proses tersebut, banyak sahut-menyahut candaan, obrolan, tapi tidak ada yang namanya Kampret dan Cebong. Bukan hanya itu, Kaya maupun miskin juga bekerja sama.

Itu yang terjadi ditempat saya,

Idul Adha menyatukan, Kampret dan Cebong punya dunia sendiri, Dunia Kepentingan


Disaat proses pengolahan daging Qurban, suasana cukup hangan, canda tawa sering terlontarkan, apalagi saat menjelang siang, dimana suasana mulai panas karena matahari sudah meninggi, dan rasa lapar sudah mulai menggoda. Hmm, candaan-candaan semakin renyah.

Baca Juga : Umat Islam di Masa Sekarang Berada pada Salah Satu Masa Terburuknya


Tapi, tidak ada yang marah, tidak ada yang sebel, malah saling melontarkan tawa hangat satu sama lain. Itu semua terjadi karena apa coba? karena semuanya tujuannya satu, misinya ya menyelesaikan pengolahan daging Qurban sampai terdistribusikan dengan baik.

Hari Raya Idul Adha, Menyingkirkan Kampret dan Cebong
act.id
Sehingga semua bisa menikmati rasanya daging kambing maupun daging sapi, tidak semua soalnya, bisa menikmati daging-daging tersebut dalam hari-hari biasa. Ukurannya rata, tidak dibedakan mana yang untuk pejabat, mana yang untuk petani, atau mana yang untuk pengangguran, dan sebagainya. Semua rata, itu ditempat saya yaa.. Hehehe...

Sudah tentu jelas, dimana kepentingan yang menyatukan dan yang tidak. Ketika kepentingan berasal dari manusia untuk manusia, ya bisa dipastikan akan ada yang kontra bahkan berusaha untuk menjatuhkannya. Beda lagi, jika kepentingannya dari Allah, dilakukan oleh Manusia untuk semua manusia secara adil untuk kemakmuran, niscaya, itu akan menyatukan. Itu yang terjadi di arus bawah, seperti di Desa saya.

Baca Juga : Esensi Hari Raya Idul Adha, Bukan hanya Hari Raya Kurban tapi juga tentang Kedermawanan

Beda lagi dengan Kampret dan Cebong, keduanya diciptakan untuk saling menyerang. Dari kepentingan manusia untuk golongan manusia tertentu, dan mengorbankan banyak manusia. Beda dengan Qurban, sebuah aturan dari Allah, memberikan Qurban bukan dari sejenis manusia, tapi manusia hanya mengurbankan hartanya untuk bisa dinikmati banyak orang.

Aturan untuk hewan Qurban juga jelas, tidak sembarang hewan, dan juga tidak semua jenis hewan yang bisa di Qurbankan memenuhi syaratnya. 

Masyaa Allah, itu yang Maha Adil dan Bijaksana. Tidak perlu menciptakan seperti halnya Kampret dan Cebong. Hehehe,,sebatas pemikiran saya saja, ketika berada ditengah-tengah orang yang memegang senjata tajam, tangan penuh darah, tapi masih tertawa dalam kebersamaan. 

Terima Kasih yaa Allah, satu kebersamaan yang tercipta di masyarakat arus bawah dengan adanya Idul Adha. Dari Allah, kembali ke Allah, dan itu yang menyatukan manusia. Sila Pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Tujuannya Satu, ya akan Menyatu.

  

Jangan Lupa Tersenyum
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar