Skip to main content

Seruan Untuk Diri Sendiri

Sebuah artikel dari atmosferku.blogspot.com yang berjudul Seruan Untuk Diri Sendiri. Semoga bermanfaat untuk menjadi bahan bakar renungan kita, sehingga menambah kecintaan kita dan selalu ingin dekat serta mendekat pada Rabb Penguasa Alam ini, ALLAH SWT.

Pict By Yogi Permana

Penyeru (da’i) yang (senantiasa) mengajak kepada kasih sayang Allah (rahmatillah), keridhaan-Nya (ridhwanillah) dan kecintaan kepada-Nya (mahabbatillah).. Adapun penyeru yang kedua, adalah yang mengajak kepada segala yang kontradiksi dengan hal tersebut. Syahwat yang (senantiasa) mengajak kepada perbuatan jahat, atau dorongan seruan kepada akhir yang buruk. Namun terkadang manusia menjalani hidup dalam satu momentum dari kehidupannya yang menyebabkan ia menangis dengan tangisan penyesalan atas
sikapnya yang berlebih-lebihan di sisi Rabbnya, maka Allah mengganti kesalahan-kesalahannya dengan kebaikan-kebaikan, disebabkan tangisannya ini.

Berapa banyak orang yang berbuat dosa, berapa banyak orang yang melakukan kesalahan, dan berapa banyak orang yang telah jauh (dari ajaran agama), sepanjang (hidupnya) mereka berjalan menjauh meninggalkan Rabb mereka, maka mereka menjadi jauh dari rahmat Allah dan meninggalkan keridhaan-Nya. Lalu datanglah kepadanya masa dan momentum berikutnya, yaitu masa dan momentum yang kita maknai dengan suatu kehidupan yang baik, sehingga tumpahlah air mata penyesalan mereka, memicu teriakan rintihan di dalam hati, lalu orang tersebut merasa bahwa sungguh sepanjang hidupnya ia merasakan keterasingan dari Allah, dan sungguh sepanjang hidupnya ia merasa absen dari (ketaatan kepada)-Nya. Semua itu terjadi agar ia mengikrarkan, “Sungguh aku (harus) bertaubat kepada Allah, kembali kepada rahmat Allah dan keridhaan-Nya.” Inilah masa yang merupakan kunci kebahagiaan bagi manusia, yaitu masa
penyesalan. Sebagaimana para ulama menyatakan, “Sesungguhnya manusia terkadang berbuat dosa, dengan berbagai dosa yang banyak. Namun sekiranya ia jujur dalam penyesalannya dan jujur dalam taubatnya, (niscaya) Allah akan mengganti berbagai kesalahannya dengan berbagai kebaikan. Maka kehidupannya akan menjadi baik dengan kebaikan penyesalannya tersebut dan dengan kejujuran apa yang didapati di dalam hatinya dari rasa duka dan rintihan sakit."

BACA JUGA :

Kami bermohon kepada Allah yang Maha Agung, Pemilik Arsy yang mulia, agar berkenan menghidupkan penyeru yang mengajak ke rahmat-Nya ini di dalam hati-hati kami, dan rintihan sakit ini yang kami rasakan dari tindakan yang berlebih-lebihan di sisi-Nya. Saudara yang kucintai karena Allah, kita menghendaki setiap kita untuk melontarkan sebuah pertanyaan kepada dirinya (masing-masing) mengenai malam dan siangnya?
  • Berapa banyak malam-malamnya yang ia hidupkan? dan berapa lama waktu yang digunakannya?
  • Berapa banyak ia tertawa dalam kehidupan ini, dan apakah tertawanya ini merupakan tertawa yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla ?
  • Berapa banyak ia telah bersenang-senang di kehidupan ini, dan apakah kesenangan ini merupakan kesenangan yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla ?
  • Berapa banyak orang yang bergadang di malam hari, dan apakah bergadangnya ini merupakan bergadang yang menjadikan Allah menyukaimu? Berapa banyak .... ? Dan berapa banyak .... ?
  • Pertanyaan yang dilontarkan kepada dirinya sendiri.
Terkadang manusia terbersit, kenapa saya mempertanyakan pertanyaan ini? Benar, anda melontarkan pertanyaan ini karena tidaklah terlihat di pelupuk mata, dan tidak pula di kehidupan yang anda lalui, melainkan anda bolak-balik berada dalam kenikmatan Ilahi. Maka diantara bukti munculnya rasa malu dan tersipu-sipu manusia terhadap Allah, bahwa manusia tersebut merasakan besarnya nikmat Allah yang dilimpahkan kepada dirinya dalam hidupnya. Diantara bentuk tersipu malu kepada Allah, yaitu kita sadar bahwa kita makan dari makanan karunia Allah, kita mengambil air dari minuman-minuman ciptaan Allah, dan bahwa kita berteduh dengan langit Allah, dan bahwa kita berjalan di atas hamparan-Nya, dan bahwa kita merasakan silih berganti (kenikmatan) dalam kasih sayang-Nya, lalu apa yang akan kita persembahkan di sisi-Nya? Manusia bertanya kepada dirinya sendiri.

Para dokter medis berkata, “Sesungguhnya di dalam hati manusia ada suatu materi, sekiranya ia bertambah 1% atau berkurang 1% (saja) maka (cukup untuk) menyebabkan kematian seketika." Maka kelembutan, kasih sayang, serta kehalusan, dan keramahan dari Allah yang menjadikan manusia menerima silih berganti kenikmatan di dalam kehidupannya. Manusia bertanya kepada dirinya sendiri mengenai kasih sayang Allah. Ketika manusia dikaruniai pendengaran, penglihatan dan kekuatan baginya, lalu :

- Siapa yang memelihara pendengarannya?
- Siapa yang memelihara penglihatannya.?
- Siapa yang memelihara akalnya?
- Siapa yang memelihara ruhnya?
- Ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Siapa yang menjaga semua ini?”
- “Siapa yang mengkarunikan kesehatan dan keselamatan?”

Orang-orang yang menderita sakit, mereka tak berdaya dan merasa kepedihan. Sementara Allah hendak membuat kita senang dengan kenikmatan-kenikmatan ini, hendak membuat kita senang dengan kesehatan, kebugaran, keamanan, keselamatan. kesemuannya itu semata-mata agar kita hidup dengan kehidupan yang baik.

Menggapai Hidup Bahagia, oleh Syekh Muhammad Mukhtar Ay-Syinqithi, Islamhouse.com

Demikianlah artikel dari atmosferku.blogspot.com tentang Seruan Untuk Diri Sendiri  Anda menyukai dan juga bermanfaat untuk yang lain informasi ini, mohon share dengan memberikan like, twit atau berkomentar di bawah ini sehingga bisa menjadi referensi bagi sahabat semua di jejaring sosial Anda. Terima kasih.   
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar