Skip to main content

Masih Menjadi Negeri Para Penikmat

Sebuah artikel dari atmosferku.blogspot.com berjudul Masih Menjadi Negeri Para Penikmat. Semoga bermanfaat, dan menjadi informasi agar kita sebagai gamer selalu bermain secara wajar agar tidak mudah terbuai di dalam sebuah permainan.
Pict From GOOGLE

 
Jagad digital kembali diramaikan oleh kehadiran makhluk berwarna kuning berekor kilatan listrik yang mampu muncul dalam dunia nyata dengan bantuan hape cerdas. Makhluk yang  tercipta pada tahun 90’an ini menyita banyak mata dalam dunia digital. Tak hanya makhluk kuning tersebut, tapi makhluk lain yang sejenis pun berhamburan di muka bumi. Ya, makhluk tersebut terkumpul dalam sebuah permainan yang dikembangkan oleh Niantic Inc (anak perusahaan besar Alphabet Inc, induk raksasa Google) bernama Pokemon Go. Makhluk Kuning tersebut adalah Pikhacu. Pikachu, dkk siap menginvasi dunia nyata menjadi dunia maya. *khayalantinggi

Permainan Pokemon Go menggabungkan dua dunia sekaligus, dengan bantuan GPS dan Google Map, pemain akan merasakan dan melihat langsung bentuk Pokemon-Pokemon seperti nyata melalui perangkat smartphone mereka. Permainan ini merupakan permainan aktif, sehingga para pemain dalam memainkan Pokemon Go harus aktif berada di luar rumah, ikut bergerak, berkelana mencari Pokemon dan bertarung pula untuk menguasai suatu wilayah. 

Belum ada satu bulan permainan ini diluncurkan oleh perusahaan Niantic, tetapi sudah menyita banyak perhatian dan diunduh ribuan kali hanya dalam waktu 48 jam saja. Dalam waktu tersebut, Pokemon Go sudah mendapat peringkat pertama dalam daftar aplikasi “Top Free” dan “Top New Free” di Google Play Store. Padahal awal peluncurannya baru di tiga Negara : Amerika, Australia, dan Selandia Baru. Tetapi sudah merajai pasar aplikasi digital di Google Play Store dan App Store Iphone.  Serta langsung merambah perbincangan yang ramai di ranah media social.

Berbicara tentang media social, di Negara ini adalah rajanya, akan sangat cepat menyebar dan menjadi viral. Padahal belum dirilis di Indonesia, tetapi sudah begitu terasa euforianya. Mereka mencari aplikasinya dengan mendownload yang masih berbentuk apk. Dan telah menyebar diseluruh kota di Negeri , Itulah negeri para penikmat (konsumen). 

BACA JUGA:

Di Negeri ini, yang mempunyai cakupan kekayaan alam yang begitu luas dan subur, selalu menjadi penikmat karya-karya dari luar Negeri. Tak hanya pangan dan sandang, sampai permainan pun hanya mampu menjadi penikmat saja. Salah satunya adalah adanya permainan Pokemon Go ini, seluruh rakyatnya langsung terbuai dalam euphoria Pokemon Go. Secara cepat permainan ini menjadi primadona baru sama halnya beberapa waktu lalu dengan permainan COC (Clash Of Clans) yang mampu menyita banyak waktu hanya untuk memainkannya. Pernah saya menjumpai seorang penjaga toko, saat mau ada orang mau membeli, dia diam saja, setelah saya perhatikan dengan seksama, penjaga toko tersebut sedang memainkan COC. Hadaw…. *tepukjidat 

Tak ayal, permainan Pokemon Go langsung mendapatkan ruang tersendiri di hati rakyat Negeri para penikmat ini. Kalau dalam bahasa keseharian di Negeri ini, permainan ini menjadi permainan yang “kekinian”. Disebuah media online diberitakan sampai ada sekumpulan orang berburu Pokemon di Monas, tak hanya itu ada situs yang mengatakan di kediaman Pak Presiden ada banyak jenis Pokemon. Wah… ada-ada saja…. Bisa-bisa ada yang pura-pura bertamu hanya untuk berburu Pokemon.  Hehee..

Bahkan ada beberapa penikmat yang sampai pandangannya meluas, dan menyebutkan bahwa permainan Pokemon Go adalah sebuah konspirasi dari Negara barat untuk meyebarkan ajaran agama tertentu. Sungguh luar biasa pandangan para penikmat, padahal sama-sama penikmat, ada beberapa menikmati permainannya dan beberapa lagi menikmati dalam membuat isu yang dibawa permainan tersebut (semua masih berupa opini). Bahkan gaezz, ojek online sampai memberi pelayanan untuk mencari Pokemon! wah.. parah parah, padahal belum dirilis di Negeri ini.

Itulah Negeri saya, negeri para penikmat, yang mampu menikmati suatu hal dari sudut pandang yang berbeda-beda. Meskipun acapkali susah menikmati secara wajar dengan mindset yang positif. #termasuksaya

Padahal, seharusnya masyarakat di Negeri ini, terutama yang mempunyai keahlian dalam bidang pembuatan aplikasi dapat terpacu untuk menciptakan permainan atau aplikasi yang lebih bermanfaat jika Pokemon Go dinyatakan berbahaya! Itu yang selama ini menjadi pertanyaan di benak saya. Di Negeri para penikmat ini mempunyai banyak ahli dalam bidang animasi dan aplikasi smartphone, tetapi mereka tidak dibudidayakan sehingga mereka keluar, memilih berkaya di negeri orang. 

Imbasnya seperti sekarang dalam segi apapun masih menjadi penikmat alias konsumen sejati. Seperti saya yang hanya mampu menuliskan artikel ini, tak ada bedanya. ^ ^
Berharap saja, game ini menjadi pelecut kita untuk membuat game sendiri yang lebih bermanfaat dan bermain game secara wajar, jangan terlalu sakau pada game tertentu hanya ingin berlabel 'kekinian'.

Demikianlah artikel dari atmosferku.blogspot.com mengenai Masih Menjadi Negeri Para Penikmat. Jika Anda menyukai informasi ini dan juga bermanfaat untuk yang lain, mohon share dengan memberikan like, twit atau bekomentar di bawah ini sehingga bisa menjadi referensi bagi teman jejaring sosial Anda. Terima kasih.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar