Skip to main content

METAMORFOSELF - Baper dengan Metamorfosis Kupu-Kupu yang Sempurna

Ilustrasi oleh Yogi Permana
Atmosferku.com - Sebelum membaca artikel ini, penulis memohon agar tulisan ini anggap saja menjadi tulisan anda (pembaca) sendiri yang menulis. Dan kata saya dalam artikel ini merupakan diri anda sendiri. Jadi tarik nafas dan baca dengan tenang. 

Pernah melihat seekor kupu-kupu? Pasti pernah bukan. Jika kita amati, kupu-kupu itu sangatlah indah dan tidak hanya anak kecil yang suka, tetapi orang dewasa pun menyukainya. Apakah tau jika sebelum menjadi kupu-kupu, hewan cantik ini sempat dihina sampai dibunuh? Tapi kita tak terlalu mempermasalahkan background sebelum menjadi kupu-kupu. Sebelum menjadi sosok hewan yang cantik dengan keindahan bentuk sayap serta cara terbangnya yang anggun merupakan seekor ulat. Tahu ulat kan? Kalau melihat bagaimana? Takut, dibilang jelek, jijik sampai bisa-bisa ulat tersebut kita bunuh. 

Ya itulah kita, sifat manusia yang sulit ketika harus menerima sesuatu yang jelek. Tak hanya kupu-kupu, sesama manusia pun terkadang masih melecehkan yang lainnya. Dan ketika melihat kupu-kupu seyogyanya kita bisa belajar.

Hmm, kenapa sih harus kupu-kupu? Kenapa bukan belalang, atau katak. Saya juga bingung kenapa memilih kupu-kupu? Hehe....

Jadi begini, seperti yang sudah diketahui bahwa sifat manusia sangat menyukai keindahan, menyukai sesuatu yang cantik. Sudah menjadi sifat dasar manusia, karena Tuhan yang menciptakan manusia pun meyukai keindahan. Tertuang dalam Alqur’an,  
“…..Dia membentuk rupamu dan memperbagus rupamu….” ( QS. At-Thagaabun: 3 ).
 
Dan Rasulullah bersabda bahwa ,”Allah itu indah dan menyukai keindahan” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Imam Ahmad). Salah satu alasan bahwa manusia pada dasarnya menyukai keindahan karena manusia diciptakan oleh Allah yang Maha Indah.

Baca Juga




Maka dari itu digunakan kupu-kupu sebagai contohnya. Kalau memakai belalang atau katak, kurang banyak yang menyukainya. Selain itu perjalanan hidup seekor kupu-kupu juga luar biasa, walaupun singkat. Perjalanan hidupnya dimulai dari sebuah telur yang sangat kecil, yang diletakkan kupu-kupu dewasa pada dedaunan. Kemudian sekitar satu minggu menetaslah telur tersebut, keluar seekor ulat. Ulat tersebut bertahan hidup selama sekitar 20 hari hanya dengan memakan daun-daun disekitarnya, ulat akan mengalami pergantian kulit sekitar 5 kali sampai mencapai ukuran yang sebenarnya, nah ketika melakukan pergantian kulit yang terakhir, akan menjadi kepompong. Berkisar antara satu minggu, akan muncul dari dalam kepompong seekor kupu-kupu cantik. Umur kupu-kupu dewasa hanya sekitar 3-4 minggu. Sangatlah singkat untuk sesuatu yang bernilai. 

Seperti itulah daur hidup seekor kupu-kupu yang cantik, atau kita menyebutnya dengan metamorphosis sempurna. Perubahan bentuk yang sempurna, dari telur-ulat-kepompong-kupu-kupu. Dari makhluk yang dianggap hina, kemudian menjadi makhluk yang mulia. Luar biasa bukan? Singkat hidupnya, tapi bernilai. Bagaimana dengan kita? Yang seorang manusia, yang lebih mempunyai pikiran, yang lebih sempurna dan mampu untuk menyempurnakan? Apa bisa seperti kupu-kupu?

Jika melihat dari umur maksimal, kita manusia lebih lama, lebih panjang umurnya, bahkan mampu mencapai 100 tahun lebih. Apakah dengan jatah umur yang panjang itu kita mampu bermetamorfosis dengan sempurna? Atau malah tidak sempurna? Itulah yang menjadi alasan saya untuk iri pada perjalanan hidup dari seekor kupu-kupu. Terlalu indah untuk diceritakan, sebagai manusia saya ingin bisa bermetamorfosis sempurna seperti kupu-kupu. Karena apa yang saya lakukan sudah terlalu jauh dari koridor-Nya. Sudah terlalu jauh dari yang namanya metamorfosis sempurna. 

Baca Juga





Kupu-kupu terlahir dari sebuah telur yang kemudian menjadi ulat. Kita pun terlahir dari sebuah telur, ekh bukannya manusia beranak? Memang beranak, tapi kita juga tercipta dari sebuah sel telur jadi boleh lah kita sebut dari telur. Dari telur sampai menjadi kita yang masih balita, sama perjalanannya dengan telur menjadi ulat. Masih mengikuti apa yang digariskan Sang Pencipta, begitu pun ketika bayi, kita masih mengikuti apa yang menjadi jalannya. Lapar masih menunggu dikasih makan, buang kotoran sembarangan. Beda dengan ulat, walaupun menjalani takdirya, tapi ulat sudah menggunakan insting dari takdirnya untuk bertahan hidup demi bisa tumbuh dewasa. Memakan daun yang ada disekitarnya, mungkin tumbuhan yang sudah dihinggapi ulat, akan berkata, "silahkan saja makan daunku karena ini sudah menjadi takdirNya". Sama saja tumbuhan itu bersedekah untuk si Ulat. Sampai ia berevolusi menjadi kepompong.

Sedangkan saya apa? Sering saya merasa menyalahkan takdir ini itu, kenapa? Kok bisa? Menjadi pertanyaan yang sering terlontarkan dalam jiwa yang fana ini. Apalagi ketika beranjak dewasa, kesalahan demi kesalahan selalu saya lakukan. Tak menganggap adanya hari pertanggung jawaban kelak, bahkan tak terpikirkan. Apa yang saya ingin selalu dilakukan, hanya sebatas nafsu yang mengontrol jazad yang fana ini. Beda dengan seekor ulat, pergantian kulit sampai 5 kali, sebagai tanda perubahan kearah ulat remaja. Jika telah melakukan banyak perkara dengan memakan daun, ia menjadi kepompong. Merenung didalam kepompong. Mungkin ulat ini mengikuti apa yang Rasulullah SAW lakukan yakni untuk ber-Uzlah (pengasingan, menyendiri, atau menyepi). Dengan melakukan uzlah, akan merasakan ketenangan dan kedamaian. Karena pada saat jiwa merasakan ketenangan dan kedamaian akan memasuki zona Ilahi, zona ikhlas, menjadi zona pada saat menyerahkan segala urusan pada Sang Maha Kuasa. Karena manusia merasa tak mampu lagi mengurusnya.
“Mungkin itulah yang dilakukan ulat di dalam kepompong, karena telah melakukan kerusakan dengan memakan dedaunan, yang berakibat berkurangnya pembentukan oksigen oleh tumbuhan. Ia menyadari kesalahannya, kemudian Allah membuat ulat menjadi sangat cantik dan indah dengan menjadi seekor kupu-kupu. Setelah menjadi kupu-kupu, ia juga akan berteman dengan makhluk yang cantik yakni bunga-bunga indah nan mempesona. Itu hadiah dari Allah untuk makhlukNya yang yakin pada KuasaNya.”

Luar biasa bukan? Sangatlah luar biasa. Berbeda dengan saya yang seorang manusia, yang terus melakukan kesalahan, tak pernah tersadarkan. Banyak kesalahan yang saya lakukan dalam kesehariannya. Saking sibuknya melakukan kesalahan sampai melupakan menjadi seperti kepompong. Mencoba menyepi sehari untuk merevisi diri sendiri, untuk bercermin, untuk melakukan seruan pada diri sendiri, baru sehari, merasakan banyak sekali kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Berikut hanya sebagian kecil 

  • Jarang melakukan sholat 5 waktu setiap harinya tanpa ada yang bolong.
  • Sering melaksanakan menunda-nunda sholat 5 waktu.
  • Jarang memanfaatkan waktu-waktu hebat untuk beribadah, seperti sepertiga malam terakhir untuk tahajud dan waktu pagi hari untuk sholat dhuha. (Baca deh : 12 Keajaiban Sholat Tahajud)
  • Sholat secara kilat dan cepat.
  • Lebih sering mendendangkan lagu-lagu yang tak jelas dari pada mengagungkan nama-Nya dalam aktivitas.
  • Lebih suka menghafal musik-musik daripada menghafal ayat-ayat alqur’an.
  • Melaksanakan puasa wajib tidak dengan sungguh-sungguh.
  • Masih menerima aliran uang yang haram.
  • Kurang dalam menjaga perkataan ketika berbicara dengan orang tua.
  • Sering merusak lingkungan dengan membuang sampah sembarangan.
  • Berbohong untuk terhindar dari kesalahan.
  • Masih menjalankan setiap laranganNya.
  • Saya lebih sering memikirkan makhluk lain daripada memikirkan-Nya.
  • Saya lebih sering curhat kepada lawan jenis dan percaya daripada curhat sama Allah.
  • Saya lebih sering berbuat dosa daripada mengurangi dosa.
  • Saya lebih sering berkumpul dengan teman-teman yang gaul dari pada teman-teman yang alim.

Saya iri dengan kupu-kupu, apa saya bisa menjadi seperti kupu-kupu? Dikemudian hari menjadi pribadi yang indah dan bersahabat dengan orang-orang indah lainnya? Dan meng-indahkan sekitar saya?

Saya hanya bertanya berkali-kali dalam benak, Apakah Allah akan mengampuni dosa-dosa saya atas semua kesalahan yang saya perbuat? Walaupun tobat saya masih senen kamis? Perkara ini yang menyebabkan saya sangat merasa malu untuk meminta sesuatu dari-Nya, tetapi jika tak meminta, saya meminta sama siapa? 

Baca Juga




Dengan bertahap saya ingin merubah semuanya, menuju kearah yang lebih indah. Ke arah-Mu yaa Rabb sebagai arah yang saya tuju saat ini. Terimalah jiwa dan jazad yang fana ini dalam setiap pertaubatan. Sungguh, kesalahan yang telah saya lakukan terasa seperti buih di lautan, terlalu banyak tak mampu dihitung.

Tetapi saya selalu yakin bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, juga Maha Pengampun walaupun saya telah benar-benar melampaui batasNya. 

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)

***
 
“Tempatkan Allah di hatimu paling dalam ketika ada masalah dan katakan #tenangadaAllah.”



Pustaka : Al Qur'an
Oleh Yogi Permana | IG: @permanaglobal  | Twitter: @permanaglobal


Demikianlah artikel inspirasi dari atmosferku.com tentang METAMORFOSELF - Baper dengan Metamorfosis Kupu-Kupu yang Sempurna. Jika Anda menyukai dan bermanfaat untuk yang lain artikel ini, mohon SHARE YAA dan jangan lupa untuk like, twit atau berkomentar di bawah ini sehingga bisa menjadi referensi bagi sahabat semua di jejaring sosial Anda. Mari menjadi penyebar kebaikan.  Terima kasih
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar