Skip to main content

Kisah Gigih Pak Parjan dan Bu Erni, menjadi Pukulan Telak buat Kita

Ini sebuah pelajaran yang penuh makna bagi mereka yang peka, sebuah kisiah gigih Pak Parjan dan Bu Erni harusnya jadi pukulan telak buat kita.



Kisah Gigih Pak Parjan dan Bu Erni, menjadi Pukulan Telak buat Kita

Atmosterku.com | Kisah Gigih Pak Parjan dan Bu Erni, menjadi Pukulan Telak buat Kita  - Ini sebuah kisah nyata di Yogyakarta, yang seharusnya menjadi pukulan telak buak kita yang bener-bener dikaruniai keadaan yang sempurna. Kalau masih ingat, sebenarnya kisah ini sudah lama diberitakan, serta sudah menjadi viral dibanyak blog dan website ternama. Namun kali ini saya mengulasnya kembali, sebagai bentuk sindiran untuk kita yang masih menginginkan segala sesuatu dengan instant dan seenaknya sendiri.

Terkadang juga apa yang kita lakukan sering kali tidak memperdulikan orang-orang disekitar kita dengan sikap dan perilaku yang acuh bahkan meremehkan. Padahal, kita sendiri yang sebenarnya lah remeh temeh di semesta ini. Mereka yang kita remehkan, adalah yang dihormati semesta. Taukah itu? merasakah itu?

Jarang juga kita memikirkan yang berawal dari hal sederhana, namun malah dengan sikap dan perilaku kita yang sudah serba ingin yang instant, mau bekerja saja inginnya yang instant, biar sedikit bekerja dan hasilnya uangnya banyak. Alih-alih bekerja secara halal, memilih yang bener-bener instant. Seperti mencuri, merampok, menipu bahkan yang merugikan orang banyak adalah korupsi.

Semoga kisah berikut ini bisa menjadi sebuah ispirasi untuk bisa mencari kebutuhan dengan cara yang halal dan tidak asal ingin secara instant.

Wigih Angkoro, orang dibalik keberlangsungan Parjan dan Erni menjajakan roti dan aneka cemilan.

Sudah dua tahun ini, Wigih terketuk hatinya untuk menolong pasangan difabel tersebut.
Dari penuturan Wigih, Parjan dan Erni tak setiap hari menggunakan jasanya. Ya, dalam seminggu mungkin bisa sekali dua kali Wigih mengantarkan roti ke tempat Parjan-Erni. "Kalau hari biasa-biasa mereka biasa mengambil 200 bungkus roti. Namun, tak jarang bila sedang mendapat pesanan mereka bisa mengambil 400 bungkus," kata pria 43 tahun ini.

Wigih menjelaskan, dia hanya mengambil keuntungan Rp 200 perak per bungkus roti yang diantar. Perhitungannya, bila Parjan mengambil 200 bungkus tinggal dikalikan saja dengan Rp 200 perak sebagai upah uang bensin. "Saya sangat mengagumi perjuangan hidup mereka. Di tengah keterbatasan fisik, mereka memilih untuk berjualan," imbuh pria asal Wirobrajan ini.

Silahkan Baca



Sementara itu, dua toko yang biasa menjadi langganan Parjan dan Erni pun membenarkan bahwa mereka kerap berbelanja di tempat tersebut.

Adalah Toko Bu Wiwik dan Pratama Bakery Jogja yang biasa menyediakan camilan dan roti yang biasa dibeli Parjan dan istrinya.

Sri Rahayu alias Wiwik, pemilik toko Bu Wiwik mengatakan, benar bila Parjan dan Erni kerap membeli camilan di tempat dia.

Biasanya Parjan dan Erni membeli cemilan macam pang-pang, makaroni, dan kerupuk dalam jumlah besar. "Minim beli Rp 200 ribu, tapi tak jarang pula sampai Rp 500 ribu," ujar Wiwik.

Mereka masih terus bertahan, dengan hanya keuntungan 200 perak perbungkus roti, keuntungan ini mungkin bisa jadi secara logika akan kalah dengan mereka yang sehat tapi berlaku sebagai pengemis, ataupun awalnya mengemis tapi sebenarnya merampok. Tapi ternyata tidak, bukan secara logika dan pemikiran mereka yang hanya inginkan secara instant.

Meskipun tak setiap hari, namun Parjan dan Erni bisa dikatakan pelanggan setia pusat grosir camilan yang beralamat di Jl Hayam Wuruk no. 70 ini. "Saya begitu trenyuh melihat mereka, ditengah keterbatasan, nuwun sewu kondisi mereka yang seperti itu masih mau bekerja. Harusnya peminta-minta yang lain itu bisa meniru dia, masih ada jalan lain selain meminta-minta," terangnya.

Di tenpat lain, pemilik Pratama Bakery Jogja pun demikian. Suharno sang pemilik usaha roti mengatakan, Parjan dan Erni sudah satu tahun ini mengambil roti di tempatnya

Namun disaat tengah ramai pesanan, Suharno mengatakan, mereka bisa memesan empat kali dalam seminggu. 

Setiap mereka yang selalu berusaha bersungguh-sungguh, tidak akan kecewa, Allah Maha itu Baik. akan selalu menaungi mereka yang bekerja keras secara halal tanpa ada korban atau tanpa ada yang dirugikan. Apalagi untuk mereka yang taat dengan segala perintahnya.

Seharusnya kita bisa belajar dari kisah gigih Pak Parjan dan Bu Erni. Perjuangan Pak Parjan dan Bu Erni yang berusaha mencari uang halal dengan kondisi mereka sebagai penyandang Tuna Netra. Harusnya kita malu, jika yang sehat sempurna malah membuat diri agar terlihat iba dan orang lain mengasihani dengan memberikan uang, sungguh pilu jika yang sehat malah menjadi pengemis. Malu!!

Apalagi yang udah sehat, jadi pengemis, nipu lagi. Sungguh terlalu banget namanya. Dan juga buat mereka yang berfoya-foya dengan uang korupsi, harusnya hati mereka terketuk. Bukankah untuk membantu permodalan usaha bagi orang-orang seperti Pak Parjan dan Bu Erni adalah lebih bermanfaat dan barfaedah? kalau mereka itu masih bisa mikir saja sih....

  

(Pustaka : Tribunjogja.com | Hening Siswanto | Bramastyo Adhi)
Terima kasih ya telah menyempatkan waktu untuk membaca Kisah Gigih Pak Parjan dan Bu Erni, menjadi Pukulan Telak buat Kita
Doa kami, Semoga rezeki berlimpah untuk sobat semua hari ini. Aamiin
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar