Skip to main content

Inilah Maksud Dibalik Menu Ketupat saat Hari Raya Idul Fitri

Inilah Maksud Dibalik Menu Ketupat di Hari Raya Idul Fitri

Inilah Maksud Dibalik Menu Ketupat saat Hari Raya Idul Fitri - Alhamdulillah, setelah melewati 30 hari ramadhan, berpuasa menahan hawa nafsyu, menahan lapar dahaga, sampailah kita semua di Hari yang Fitri, yang dimana kita seperti terlahir kembali bagai seorang bayi. Polos, bersih, dan suci dari dosa. Lebaran, sebagai tanda Hari Kemenangan dengan kumandang takbir yang merasuk relung hati.

Setelah sebagian nunggu hilal.
Setelah yang lain nunggu halal.

Setelah sebagian mikir dan mengharapkan THR.
Setelah yang lain mikir 'THR' (Tunangan Hari Raya).

Dan setelah itu, tepat di Hari Kemenangan, Hari Raya Idul Fitri maka sebagian akan mengucapkan 'mohon maaf lahir batin'. Tapi kamu jangan malah mengucapkan 'mohon nafkah lahir batin' yaa. Buahahahahakkkkkk...

Silahkan Baca :  20 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri

Namun kali ini bukan sedang membahas soal jodoh. Sama sekali tidak membahas itu. Melainkan membahas soal mudik dan Lebaran. Boleh saya menyarankan sesuatu? Bagi teman-teman yang mudik, segeralah kembali.

Soalnya ada anjuran dari Baginda Rasulullah SAW, dimana kita dianjurkan untuk tetap pulang kepada keluarga.

"Apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan urusannya (saat bepergian, termasuk mudik), hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya," HR Bukhari. Demikianlah pesan Nabi Muhammad SAW.

Satu tradisi yang sulit dipisahkan ketika mudik dan Lebaran adalah hidangan ketupat, opor, dan pecel. Saya yakin jika kamu dan kita semua pasti sudah sering menyantapnya. Ngomong-ngomong soal ketupat, apa saja hikmahnya?

Ketupat (kupat) sebagai tradisi Muslim di nusantara nan jaya ini saat Lebaran, diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Dan lazimnya, kupat dihidangkan dengan lauk bersantan (santen) atau “kupat santen” yang mengisyaratkan “kulo lepat, nyuwun ngapunten.”

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia, "saya salah mohon dimaafkan". Keren ya? Di sisi lain, kupat juga dapat dijabarkan sebagai “laku papat” atau empat tindakan, yakni Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Maksudnya?

Silahkan Baca : Termasuk Tipe Anak Seperti Apa Kita saat Lebaran??


- Lebaran berasal dari kata “lebar”. Artinya selesai. Ini mengisyaratkan telah selesai menjalani ibadah puasa. Ini pula yang disampaikan oleh MA Salmun (1954).

- Luberan berasal dari kata “luber”. Artinya meluap atau melimpah. Ini mengisyaratkan semangat berbagi dalam bentuk zakat dan sedekah.

- Leburan, berasal dari kata “lebur”. Artinya melebur atau menghilangkan. Ini mengisyaratkan dileburnya dosa karena saling bermaafan.

- Laburan berasal dari kata “labur”. Artinya memutihkan dinding rumah. Ini mengisyaratkan bersihnya lahir dan batin.

Ini tradisi yang indah, penuh hikmah, dan penuh berkah. Insya Allah. Dengan begitu kita bisa menjadikan hari Lebaran sebagai hari dimana bisa berbuat kebaikan disaat diri sedang dalam keadaan suci.

Semoga bermanfaat. 

  
Pustaka :
WA Ippho Santosa
Foto: pepatung.com.my
Jadikan hari Lebaran, hari dimana kita harus menjaga kesucian hati kita untuk hari-hari selanjutnya
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar