Biarpun Ia Sahabat Kita Sendiri Sekalipun, Ia Tetap mempunyai Wilayah Pribadi

Biarpun Ia Sahabat Kita Sendiri Sekalipun, Ia Tetap mempunyai Wilayah Pribadi

Biarpun Ia Sahabat Kita Sendiri Sekalipun, Ia Tetap mempunyai Wilayah Pribadi

Biarpun Ia Sahabat Kita Sendiri Sekalipun, Ia Tetap mempunyai Wilayah Pribadi - Sering sekali dikepoin teman sendiri, atau malah dibully habis-habisan mengenai hal yang seharusnya itu menjadi wilayah pribadinya. Entah salahnya apa sampai dibilang dan di bully sedemikian kentalnya.

Apalagi era sosial media saat ini, akun-akun yang bikin baper selalu posting konten yang terkadang nyrempet ke wilayah kita sendiri. Kemudian, teman me-mention, "ini lho kamu", dilanjut dengan emoticon ketawa. Kadang eneg juga kalau digituin tapi ya mau gimana lagi namanya manusia yang sepertinya butuh kebahagiaan. Heheheh..

Senyumin saja apapun perkataan mereka, toh yang menjalanin kita sendiri bukan mereka, terkadang mereka pun tidak peduli dengan alasan kita, yang penting sih bisa membully. Dan itu menyenangkan.

Saya tertarik dengan tulisannya Mbak Vivi Yun tentang Wilayah Pribadi (privacy). Tulisannya begitu pas, dan saya rasa pantas untuk disebar luaskan. Setidaknya agar bias dimengerti, tidak semua tentang diri kita sendiri pantas untuk jadi bahan ledekan, apalagi di depan umum.

Dibuat malu dan mereka tertawa bahagia tanpa ada rasa salah, ya mungkin bukan salah sih, melainkan rasa tidak enak hati.

Silahkan Baca :  Banyak dari Kita yang Salah Memahami Kriteria dalam Memilih Teman

Oke langsung saja simak yuk tulisannya singkat tapi keren dari Mbak Vivi Yun.

Dari sekian banyak teman, saya hampir tidak tahu pastinya berapa umur masing-masing mereka.

Juga banyak tidak tahu apakah mereka sudah menikah atau single atau single parent. Termasuk sudah punya anak atau belum.

Beberapa juga saya tidak tahu profesi atau bidang pekerjaannya.

Sebagian teman yang saya ketahui umurnya, statusnya menikah atau single, anaknya berapa, suaminya kerja apa, apa profesinya, apa bidang pekerjaannya, dan hal-hal terkait wilayah pribadi lainnya. Bisa dipastikan 100% bukan karena saya bertanya pada mereka. Namun karena mereka lah yang mulai menceritakan sendiri dengan sukarela.

Wilayah pribadi, bagi saya adalah wilayah sensitif, yang saya memilih menjaga perasaan mereka dengan tidak pernah mempertanyakan, kecuali mereka yang membuka pintu duluan. Senyamannya masing-masing mereka.

Lalu saat ketemuan, saat jalan, yang dibicarakan apa ? Lebih asik membicarakan ide, gagasan, pemikiran, tema-tema umum, ilmu, hikmah, atau sekedar tertawa bersama dengan kelucuan-kelucuan.

"Perlakukan hati orang lain seperti kristal yang layak dijaga dengan penuh kehati-hatian, karena setiap hati sebenarnya membutuhkan keamanan & kenyamanan". 

Persis sekali seperti saya, tidak peduli dengan urusan pribadi orang lain. Tidak pernah menanyakan menikah apa belum, punya anak, punya penyakit apa, dan sebagainya.

Kecuali jika sahabat atau teman sudah mulai bercerita dengan sendirinya. Nah kalau kaya gitu lain ceritanya, tapi bukan juga kesempatan untuk membully, melainkan memberinya saran yang positif. Setidaknya untuk menguatkannya.

Silahkan Baca : Mereka yang Menasehatimu malah Kamu anggap Si Tukang Nyinyir


Pernah dulu ada sahabat yang bercerita tentang masa lalunya, kemudian ia berhenti ditengah-tengah, ya saya sama sekali tidak menyuruhnya meneruskan. Sayapun tidak memikirkan dan bersangka yang tidak-tidak. Karena itu bisa bahaya buat diri saya sendiri, selain itu teman saya juga punya wilayah pribadi yang mestinya ia jaga.

Apalagi sampai wilayah pribadi seseorang malah dibuat bercandaan, sebenarnya itu keterlaluan. Tapi ya apa boleh buat, tidak mungkin kita marah sama teman sendiri. Toh, anggap saja itu menyenangkan teman. Kita dapat pahala, selama masih dalam batas kewajaran. InshaaAllah.... ^ ^

Memang terkadang pasti ada rasa jengal juga, tiap hari itu-itu mulu, kenapa tidak memberi masukan saja, kalau kita menceritakan kesulitan kita, apa mereka mau membantu? saya yakin itu 50 : 50 deh. Bahkan 49 :51, peluang untuk tidak membantu sangat besar.

Selow-in saja lah, jika tidak legowo ya kita akan hidup tertekan, senyumin saja, jika tidak tersenyum, akan emosi selalu.

Saya pun punya cerita, lucu tapi aneh sih, ini pem-Bully-an yang aneh. Bergabung dalam suatu komunitas, mereka yang menjodoh-jodohkan, kemudian mereka yang membuat gosip, giliran salah satunya menikah dengan yang lainnya, bukan dengan yang mereka jodohkan. Malah membully yang satunya. Parah ya! hahahaha...

Yang dijodohkan fine-fine saja, dari awal hingga yang satunya nikah. Wong tidak ada rasa dan tidak ada hubungan. Tapi, mereka malah mengatakan, "tau nggak kalau si Fulanah nikah, yang sabar ya, kamu sih nggak mau nglamar cepet-cepet".

Lah itu bagaimana ceritanya coba? hahahaha...... 

Silahkan Baca : Berhentilah untuk melakukan Body Shaming, karena itu Mempengaruhi Kepercayaan Diri Seseorang


Dari dulu kebahagiaan paling lepas adalah ketika menertawakan orang lain, apalagi sampai ada temannya yang lain bisa diajak ikut tertawa. :-D

Wong saya juga pernah ngalamin itu, teman kepleset malah diketawain, baru ditolongin. Ya hampir seperti itulah.

Legowokan hati, ikhlaskan rasa, senyumin mereka. InshaaAllah kamu tetep bisa mengontrol emosimu.

Saya tertarik dengan kata bijak dari mbak Vivit Yun, saya ulangi lagi sebagai penutup artikel ini.

"Perlakukan hati orang lain seperti kristal yang layak dijaga dengan penuh kehati-hatian, karena setiap hati sebenarnya membutuhkan keamanan & kenyamanan".

  
Penulis: Yogi Permana
Photo : www.iab.com
Doa kami, Semoga rezeki berlimpah untuk sobat semua hari ini. Aamiin
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments