--> Skip to main content

Syarat Usia Jadi Tembok yang Sulit Ditembus, Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok

 Syarat Usia Jadi Tembok yang Sulit Ditembus, Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok

 

Kisah pasutri Depok berjuang di job fair, terhalang batas usia kerja dan dampak panjang pandemi

Atmosterku.com | Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok menjadi gambaran nyata tentang kerasnya perjuangan mencari pekerjaan di usia yang tak lagi muda. Di tengah ramainya bursa kerja yang dipenuhi anak-anak muda penuh semangat, ada pasangan suami-istri yang duduk dengan wajah lelah namun tetap menyimpan harapan. Mereka bukan baru lulus kuliah, bukan pula pencari kerja pertama kali. Mereka adalah korban keadaan, korban badai panjang bernama pandemi Covid-19, yang hingga kini dampaknya masih terasa. Di balik senyum yang dipaksakan dan map lamaran yang digenggam erat, tersimpan tanggung jawab besar sebagai orangtua yang ingin tetap berdiri demi keluarga.

Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok: Datang dengan Harapan di Tengah Keramaian


Dalam Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok, Dini (42) dan Supono (48) hadir di tengah ribuan pelamar muda yang memadati arena job fair. Mereka tampak berbeda. Usia mereka terpaut cukup jauh dari mayoritas peserta yang didominasi lulusan baru.

Namun, perbedaan usia tak menyurutkan langkah mereka. Map lamaran tetap disiapkan, berkas tetap dirapikan. Dini dan Supono tahu betul bahwa peluang mungkin kecil, tetapi mereka tetap datang. Sebab, di rumah ada seorang anak yang menunggu kabar baik.

Kehadiran mereka bukan sekadar mencari kerja, tetapi mencari harapan baru.

Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok: Dampak Panjang Pandemi Covid-19


Tiga tahun lalu, badai pandemi Covid-19 memaksa banyak perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja. Dini dan Supono termasuk di antaranya. Mereka kehilangan pekerjaan hampir bersamaan.

Sejak saat itu, kehidupan mereka berubah drastis. Tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun perlahan habis untuk kebutuhan sehari-hari. Biaya kontrakan, listrik, makan, hingga kebutuhan sekolah anak harus tetap dibayar.

Pandemi memang telah berlalu secara status, tetapi dampak ekonominya masih terasa bagi banyak keluarga. PHK massal menjadi awal dari perjuangan panjang mencari pekerjaan baru, terutama bagi mereka yang sudah berusia di atas 40 tahun.

Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok: Terhalang Batas Usia


Salah satu kendala terbesar dalam Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok adalah batas usia.

Meski keduanya bergelar sarjana, Dini lulusan Manajemen Informatika tahun 1999 dan Supono lulusan Teknik Informatika tahun 1995, syarat usia maksimal 35 tahun menjadi tembok besar yang sulit ditembus.

Ironisnya, pengalaman dan pendidikan tinggi sering kali kalah oleh angka usia di KTP. Padahal secara kemampuan, mereka merasa masih produktif dan sanggup bekerja dengan baik.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa diskriminasi usia dalam lowongan kerja masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Banyak perusahaan lebih memilih tenaga kerja muda dengan alasan fleksibilitas dan efisiensi, sementara pengalaman panjang kurang mendapat tempat.

Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok: Bertahan dengan Usaha Sederhana


Dalam kondisi sulit, Dini tidak tinggal diam. Ia membuka warung jajanan kecil menggunakan sisa tabungan sebelum pandemi. Hasilnya memang tidak besar, tetapi cukup membantu menyambung hidup.

Sementara itu, Supono memilih menjadi penjual kopi keliling atau starling di sekitar Balai Kota Depok. Empat bulan terakhir, ia berjualan dari pagi hingga sore demi mendapatkan penghasilan tambahan.

Meski penghasilan tidak menentu, keduanya tetap berusaha. Mereka tidak malu memulai dari bawah. Bagi mereka, pekerjaan apa pun yang halal adalah bentuk tanggung jawab kepada keluarga.

Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok: Ancaman Penipuan Lowongan Kerja


Perjuangan mencari kerja tidak selalu berjalan mulus. Dalam Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok, Dini dan Supono juga pernah menjadi korban upaya penipuan.

Mereka pernah melamar melalui aplikasi daring. Setelah dipanggil ke sebuah ruko, mereka justru diminta membayar uang administrasi sebesar Rp1 juta. Situasi seperti ini semakin menambah beban psikologis dan finansial.

Kasus seperti ini menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap penipuan berkedok lowongan kerja. Pencari kerja yang sedang terdesak secara ekonomi sering kali menjadi target empuk oknum tidak bertanggung jawab.

Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok: Tanggung Jawab sebagai Orangtua


Di balik semua perjuangan itu, ada alasan sederhana namun kuat: anak semata wayang mereka.

Anak mereka akan segera masuk SMP. Biaya pendidikan tentu tidak sedikit. Seragam, buku, uang pangkal, hingga kebutuhan harian harus dipersiapkan.

Bagi Dini dan Supono, mencari kerja bukan sekadar soal gengsi atau status sosial. Ini tentang masa depan anak. Tentang memastikan pendidikan tetap berjalan meski kondisi ekonomi sedang sulit.

Inilah yang membuat mereka tetap datang ke job fair Depok, meski harus bersaing dengan ratusan pelamar muda.

Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok: Harapan Akan Kebijakan yang Lebih Manusiawi


Dalam penutup cerita mereka, Dini menyampaikan harapan sederhana: agar lebih banyak perusahaan membuka kesempatan bagi pencari kerja usia di atas 40 tahun.

Mereka merasa masih sehat, masih mampu bekerja, dan masih punya semangat. Namun, sistem seleksi sering kali menutup pintu sejak awal karena batas usia.

Isu ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan pelaku usaha. Kesempatan kerja yang inklusif dan lebih manusiawi dapat membantu banyak keluarga bertahan.

Pengalaman, kedewasaan, dan tanggung jawab adalah nilai tambah yang tidak dimiliki semua orang muda. Dengan kebijakan yang lebih terbuka, potensi ini bisa dimanfaatkan secara optimal.

Refleksi: Lebih dari Sekadar Mencari Kerja


Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok bukan hanya cerita tentang antrean lamaran atau map berisi CV. Ini adalah kisah tentang keteguhan hati.

Tentang bagaimana dua orang dewasa yang telah melewati banyak fase kehidupan tetap memilih bangkit, meski berkali-kali ditolak. Tentang bagaimana harapan tidak pernah benar-benar padam, meski usia terus bertambah.

Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, cerita ini mengingatkan kita bahwa angka usia tidak selalu mencerminkan kemampuan. Banyak orang di luar sana yang masih produktif, tetapi terhalang oleh sistem.

Semoga semakin banyak pihak yang membuka mata dan hati. Karena di balik setiap pencari kerja, ada keluarga yang menunggu kabar baik.

Dan bagi Dini serta Supono, perjuangan belum selesai. Selama masih ada kesempatan, mereka akan terus mencoba.

Dalam Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok, persoalan batas usia maksimal 35 tahun menjadi sorotan yang sulit diabaikan. Banyak lowongan kerja secara terang-terangan mencantumkan syarat tersebut. Artinya, mereka yang berusia 35 tahun ke atas secara otomatis tersingkir bahkan sebelum proses seleksi dimulai.

Jika memang sistem ketenagakerjaan membatasi peluang kerja hanya sampai usia tertentu, maka muncul pertanyaan mendasar: bagaimana nasib mereka yang masih produktif tetapi tak lagi memenuhi syarat usia? Jika akses kerja ditutup oleh regulasi atau kebijakan perusahaan, bukankah secara logika negara juga perlu memikirkan jaminan hidup bagi kelompok usia tersebut?

Secara sederhana, jika seseorang berusia di atas 35 tahun sulit mendapatkan pekerjaan karena batas usia, maka idealnya ada jaminan sosial yang kuat atau skema perlindungan yang memadai. Sebab mereka tetap memiliki kebutuhan hidup, makan, tempat tinggal, pendidikan anak, dan biaya kesehatan.

Kita tidak sedang berbicara tentang memanjakan atau membuat orang bergantung pada bantuan. Kita sedang membahas keadilan. Jika kesempatan kerja dibatasi, maka perlindungan sosial seharusnya diperkuat. Jika tidak, kebijakan batas usia hanya akan melahirkan kelompok usia produktif yang terjebak dalam pengangguran tanpa solusi.

Dalam konteks Kisah Pasutri Paruh Baya Berjuang Bersama Mencari Kerja di “Job Fair” Depok, Dini dan Supono adalah contoh nyata. Mereka masih sehat, masih memiliki pengalaman, bahkan berpendidikan tinggi. Namun angka usia membuat mereka kalah sebelum bertanding.

Oleh karena itu, diskusi tentang diskriminasi usia dalam lowongan kerja perlu dibuka lebih luas. Apakah batas usia benar-benar mencerminkan produktivitas? Ataukah ini hanya kebiasaan lama yang belum diperbarui?

Jika perusahaan merasa tenaga muda lebih efisien, negara setidaknya perlu memastikan bahwa warga yang tidak lagi masuk kategori “muda” tetap memiliki perlindungan hidup yang layak. Baik melalui program pelatihan ulang, subsidi usaha kecil, atau sistem jaminan pengangguran yang lebih efektif.

Karena pada akhirnya, pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan. Ia adalah cara seseorang menjaga martabat dan tanggung jawabnya terhadap keluarga.
  

Oleh Yogi Permana 
"Selama kita masih punya hati yang hidup, mari sebarkan kebaikan" www.atmosferku.com
Newest Post
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar