--> Skip to main content

Memandang Begadang dan Tidur dari Sudut yang Berbeda

 

Memandang Begadang dan Tidur dari Sudut yang Berbeda
pexels

Sudut pandang berbeda soal begadang dan tidur yang bikin kamu berpikir ulang

Atmosterku.com | Memandang Begadang dan Tidur dari Sudut yang Berbeda - Setiap hari kita dihadapkan pada dua pilihan sederhana: tidur lebih cepat atau begadang lebih lama. Keduanya sering dinilai secara hitam putih. Tidur dianggap sebagai bentuk perhatian terhadap tubuh, sementara begadang sering dicap sebagai kebiasaan buruk yang merusak kesehatan. Namun, pernahkah kita mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda?

Bagaimana jika tidur bukan semata-mata tanda kita peduli pada tubuh, melainkan karena kita tidak sabar menunggu pagi datang? Dan bagaimana jika begadang bukan berarti kita abai pada diri sendiri, tetapi justru bentuk kesabaran dalam menikmati malam hingga fajar menyapa? Perspektif ini mungkin terdengar tidak biasa, tetapi menarik untuk direnungkan.

Tidur: Benarkah Selalu Soal Peduli Tubuh?


Banyak orang tidur lebih awal karena merasa lelah, atau karena tahu tubuh membutuhkan istirahat. Itu tentu baik. Namun ada kalanya kita memilih tidur hanya karena ingin “mempercepat waktu”. Kita tidak sabar menunggu pagi, entah karena ada hal yang ditunggu, pekerjaan yang ingin segera dimulai, atau sekadar ingin melewati malam yang terasa sepi. 

Baca Juga : Inilah 3 Hal yang Membuang-Buang Waktu, harus Kamu Hindari!
 
Tidur, dalam konteks ini, menjadi seperti tombol “skip”. Kita menutup mata agar waktu terasa lebih cepat berlalu. Bukan karena tubuh benar-benar butuh, tetapi karena hati ingin segera sampai ke esok hari.

Apakah itu salah? Tidak juga. Hanya saja, menarik untuk menyadari bahwa alasan kita tidur tidak selalu sesederhana “ingin sehat”.

Begadang: Selalu Buruk?


Begadang hampir selalu dikaitkan dengan hal negatif. Kurang tidur, bangun kesiangan, tubuh lemas, konsentrasi menurun. Semua itu memang nyata jika dilakukan terus-menerus tanpa kendali.

Namun ada sisi lain dari begadang. Ada orang yang begadang karena ingin menyelesaikan mimpi, mengejar deadline, menulis ide yang baru saja muncul, atau sekadar menikmati sunyinya malam. Di waktu yang hening itu, banyak pikiran menjadi lebih jernih. 

Baca Juga : Cinta Tak Harus Mengorbankan Harga Diri, Pesan Penting untuk Para ABG
 
Begadang bisa menjadi simbol kesabaran. Sabar menunggu pagi. Sabar menyelesaikan proses. Sabar menemani diri sendiri dalam diam.

Bukan berarti tubuh tidak penting. Hanya saja, terkadang ada hal-hal yang terasa lebih mendesak untuk dituntaskan sebelum fajar datang.

Antara Tidak Sabar dan Terlalu Sabar


Jika tidur bisa diartikan sebagai “tidak sabar menunggu pagi”, dan begadang sebagai “sabar menunggu pagi”, maka keduanya sebenarnya hanya soal sudut pandang.

Yang menjadi pertanyaan bukanlah mana yang benar atau salah, melainkan: Apakah kita melakukannya dengan sadar?

Tidur karena benar-benar butuh istirahat adalah keputusan bijak. Begadang untuk hal produktif sesekali juga bukan dosa. Masalah muncul ketika kita kehilangan kendali, begadang tanpa tujuan, atau tidur berlebihan untuk lari dari masalah.

Segala sesuatu yang berlebihan hampir selalu membawa konsekuensi.

Belajar Mendengar Tubuh dan Hati


Pada akhirnya, tubuh tetap punya batas. Ia tidak bisa terus dipaksa menunggu pagi tanpa istirahat. Begitu juga pikiran tidak bisa selalu dipercepat dengan cara tidur lebih awal hanya demi melompat ke hari esok.

Yang terpenting adalah keseimbangan. Mendengar tubuh ketika ia lelah. Mendengar hati ketika ia butuh waktu tenang di malam hari. Tidak menghakimi diri sendiri hanya karena memilih begadang, dan tidak merasa lebih unggul hanya karena tidur lebih cepat. 

Baca Juga : Inilah 12 Tips agar menjadi Remaja yang Cinta Berdakwah
 
Karena hidup bukan soal siapa yang paling cepat tidur atau paling lama terjaga. Hidup adalah tentang bagaimana kita menghargai waktu, baik malam maupun pagi.

Pada akhirnya, malam dan pagi hanyalah bagian dari waktu yang terus berjalan. Yang menentukan kualitas hidup kita bukanlah seberapa lama kita terjaga, atau seberapa cepat kita memejamkan mata, tetapi seberapa bijak kita memperlakukan diri sendiri.

Begadang tanpa tujuan bisa menjadi bentuk kelalaian. Tidur berlebihan pun bisa menjadi bentuk pelarian. Keduanya bisa sama-sama menjauhkan kita dari keseimbangan jika dilakukan tanpa kesadaran.

Tubuh adalah amanah. Waktu adalah titipan. Jangan gunakan malam hanya untuk menghabiskannya, dan jangan gunakan tidur hanya untuk melarikan diri. Jika ingin menunggu pagi, tunggulah dengan cara yang sehat. Jika ingin mempercepat datangnya esok, pastikan bukan karena kita menyerah pada hari ini. 

Baca Juga : 6 Faktor yang Mendorong Orang Berbuat Dosa, Jangan Anggap Remeh!

Karena orang yang dewasa bukan yang paling kuat menahan kantuk, dan bukan pula yang paling cepat terlelap, melainkan yang paling mampu mengendalikan dirinya.

Jagalah malam, agar pagimu tetap terang.
  

Oleh Yogi Permana 
"Selama kita masih punya hati yang hidup, mari sebarkan kebaikan" www.atmosferku.com
Newest Post
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar