Skip to main content

Masih Segar diingatan, jika AKU KORBAN KEKERASAN GURU

Artikel Apik dan Viral mengenai Korban Kekerasan Guru

Masih Segar diingatan, jika AKU KORBAN KEKERASAN GURU

Masih Segar diingatan, jika AKU KORBAN KEKERASAN GURU - Kalau anakmu dipukul guru di sekolah, apa kamu akan memarahi Gurunya atau kamu malah akan melaporkan Guru ke Polisi? Seperti halnya berita-berita yang sering viral mengenai orang tua melaporkan guru ke pihak berwajib. Akhirnya guru ditahan, yang kasihan lagi kalau sampai diberhentikan.

Itu bukanlah kekerasan Guru dalam arti negatif, mungkin jika orang tuamu demikian, malah melaporkan ke pihak berwajib, dulunya tidak pernah merasakan kenikmatan dihukum dan dipukul guru karena berbuat kesalahan. 


Seperti dulu saya, sudah ada jadwalnya piket, kalau tidak piket, segera Pak Kebon atau penjaga sekolah mendatang dan memukul dengan sapu. Itu baru penjaga sekolahnya, belum gurunya. Disuruh berdiri didepan kelas pernah, dipukul penggaris juga pernah, dilempari kapur juga pernah.

Tapi orang tua tidak pernah marah apalagi sampai melaporkan. Hmm, malah orang tua malu kalau anaknya sampai kena demikian oleh Gurunya, pertanda anaknya itu di Sekolah nakal. Dan guru ngelakuin itu karena untuk mendisiplinkan. Ingat itu yaa, "agar anak-anak disiplin". Coba sekarang, kalau apa-apa dikit guru dilaporin, fungsinya guru apa?? Tidak ada sepertinya, hanya seperti sebuah radio. Bersuara tapi tak mampu berbuat.

Percayalah wahai Orang tua, Guru sudah paham kadarnya dalam menghukum anak didiknya, kecuali kalau orang tua emang tidak mau anaknya dididik. Ya itu, bukannya malu anaknya mendapat hukuman, ekh malah marah ke gurunya. Itu mah malu-maluin menurut saya.

Seperti artikel keren dibawah ini, ditulis oleh Mas Adi Surya, Lulusan terbaik UNJ yang masa-masa sekolah selalu menjadi korban kekerasan guru. Tulisan apik ini semoga bisa menyadarkan, serta membuka wawasan, bahwa yang dilakukan guru sudah sesuai kapasitasnya. 


Simak Tulisannya dibawah ini, pahami dan resapi

Perkenalkan, aku Adi Surya. Lulusan terbaik Universitas Negeri Jakarta.
Kapan aku duduk di bangku SD? Pada masa teknologi masih Radio dengan antena, dan Televisi masih hitam putih dikeroyok semut.

Aku korban kekerasan guru sejak kelas tiga SD. Masih segar di ingatan, wali kelasku, Pak Yunus, berteriak marah, "hey, kamu! Maju ke depan kelas!" Dengan wajah menantang aku berdiri, menghampiri beliau.

Baca Juga :  Pesaing Terberat Bukan Orang yang ada Di Kanan dan Kiri kita

"Selesaikan soal ini!" Lelaki empat puluh tahun itu memukul papan tulis dengan penggaris kayu. "Salah sedikit saja, habis kamu!" Aku dengan yakin mengerjakan soal matematika yang ia berikan.

"Sudah, Pak." Aku berseru dengan sombong. Yakin kalau jawabanku pasti benar.

Tapi ....

Plak ...! Penggaris dengan panjang satu meter itu mendarat di tubuh bagian belakangku. "Kamu cukup pandai, tapi bengal minta ampun! Duduk!" Aku kembali ke kursi sambil mengusap bagian yang sakit.
.
Di lain kesempatan, saat aku kelas lima, aku di panggil wali kelas dua, guru wanita yang terkenal killer, kejam dan suka menghukum. Namanya Bu Hernita. Matanya menakutkan, selalu membawa rotan di tangannya.

"Adi, kamu tadi memukul siswa kelas dua. Betul?" Aku biasanya selalu berani menghadapi guru, tapi hari itu, aku tertunduk takut. "Jawab...!" Wanita itu berteriak sambil memukul meja.

Aku benar-benar mati gaya waktu itu. Darah premanku menghilang. Padahal aku sudah sering dipanggil guru, tapi selalu selamat dari guru satu ini. Tapi kali ini, sepertinya adalah hari sialku.

"Kemari...!" Tanganku di tarik mendekat, "kepalkan tanganmu!" Aku menuruti, dan tiga puluh pukulan mendarat di kepalan tangan kecilku. Menangis? Ya, aku menangis, tentu saja, kalian boleh mencobanya, kalau tidak percaya, rasanya sakit!

"Aku akan laporkan pada ayahku!" Aku menangis dan berteriak, mengambil tas di kelas dan berlari pulang.

Tiba di rumah, aku menceritakan semuanya dengan jujur. Apa tanggapan ayahku? Dia menggandeng tanganku, dan kembali ke sekolah. Aku tersenyum penuh kemenangan.

"Rasakan ...." kataku dalam hati.

Tapi ... tiba di sekolah, Ayah menghampiri Bu Hernita, dan berkata, "hukum dia lebih keras lagi, Bu, karena dia tidak sadar apa kesalahannya." Ayah meraih penggaris dan memukul tanganku berulang kali. Dan Bu Hernita menghentikan tindakan Ayah. "Di sekolah, hanya kami yang boleh menghukum. Bapak boleh pulang...!" tegas Bu Hernita.

Setelah Ayah pulang, Bu Hernita membawaku ke lapangan. Mengumpulkan semua siswa.

"Dengar semuanya! Mulai hari ini, Ibu tidak mau ada yang berteman dengan Adi ... kalau ada yang berteman, akan Ibu hukum! Faham?" Tatapan Bu Hernita beralih padaku, "dan kamu, kalau masih bersikap seperti ini. Ibu akan keluarkan kamu dari sekolah!" Kemudian beliau berlalu begitu saja.
.
Terhitung sejak hari itu, aku tidak memiliki satu orang teman pun. Semua teman menjauh setiap kali aku mendekat.

Baca Juga :  Eksploitasi Perempuan di Dunia Maya

Aku sudah kelas lima menuju kelas enam waktu itu, usiaku bukan balita lagi. Aku sudah remaja, seharusnya sikapku tak seburuk itu.

Sampai pada puncak yang membuat aku terpukul lebih keras dari pukulan Bu Hernita, sore itu sepulang sekolah aku di panggil kepala sekolah. Saat aku masuk, ada Bu Hernita di sana.

"Adi, nilai kamu sejak kelas satu tidak buruk. Kelas satu sampai kelas dua, kamu selalu juara umum. Apa kamu tidak bertanya-tanya, kenapa di kelas tiga sampai kelas lima kamu tidak juara?" Kepala sekolah ku bernama Pak Sudirman, orangnya sangat lembut. Berbicara dengan penuh kasih sayang, "nilai kamu masih tinggi. Bahkan lebih tinggi dari peraih juara umum kita. Tapi perilaku kamu ini, yang membuat nilai angka rapormu tidak ada gunanya."

Aku tertunduk, Bu Hernita mengusap kepalaku. "Kemari, dengarkan Ibu." Jujur baru sekali itu aku melihat Bu Hernita selembut kapas berbicara padaku.

"Kamu tahu, Adi? Apa yang paling berguna? Bukan angka-angka di rapor itu. Melainkan ... ini." Tangan beliau menyentuh dadaku. Aku sudah remaja waktu itu, dan sudah sangat memahami maksud beliau. Bagaimana rasanya? Malu! Ingin menangis, tapi tidak bisa. Jadinya? Sesak di dada!

"Begini, apa Adi mau berubah? Karena kalau Ndah seperti ini terus, sekolah tidak akan meluluskan." Aku melihat ke arah Bu Hernita, aku tahu beliau serius.

"Mau berubah?" Bisik beliau pelan. Aku mengangguk. Pelan.

"Adi janji, Adi akan berubah, Bu. Adi janji gak nakal lagi!"
======

Sejak hari itu, aku adalah Adi yang baru. Aku terlahir menjadi pribadi yang berbeda. Dan benar saja, saat kelas enam, aku kembali meraih juara umum.

Aku lulus tes dengan nilai terbaik di SMP favorit. Juga masuk dan lulus SMA dengan nilai yang masih sangat memukau, hingga aku berhasil meraih beasiswa sampai menyelesaikan S1.

Baca Juga :  Penyakit Keumuman Manusia, Tidak ada yang Bisa Lepas Darinya

Ketika lulus SMA, aku berkunjung kerumah Bu Hernita, menanyakan satu hal yang dulu tidak berani aku tanyakan.

"Kenapa di rapor, meski aku tidak juara, nilaiku masih di tulis dengan jujur?"

Beliau menjawab, "karena itu nilai kamu. Kami tidak berhak mempermainkannya."

Bertanya-tanya apa saja kenakalanku? Banyak teman-teman. Aku memukul adik dan kakak kelas, padahal mereka tidak sengaja menginjak kakiku waktu antri beli makan di kantin. Aku membuang buku PR teman sekelas yang sering mengangguku, dan masih banyak lagi kenakalanku yang lain, sejak kapan? Sejak aku kelas tiga. Luar biasa bukan? Ya, aku anak nakal yang selalu di pukul oleh guru, nyaris setiap hari.

Akulah Adi, korban kekerasan guru, yang berhasil meraih gelar sarjana dengan masa kuliah tiga tahun.

Akulah Adi, korban kekerasan guru, yang setiap hari memiliki luka di bagian jari.
Apakah kedua orang tuaku melaporkan mereka? Ooh tidak! Orang tuaku tahu, bagaimana sifat dan sikapku. Itulah kenapa mereka akan tambah memarahiku, setiap kali aku terkena hukuman.

Akulah Adi, korban kekerasan guru, yang sangat berterimakasih pada rotan dan penggaris kayu itu.

Namaku, Adi. Aku bahagia guruku pernah memukul saat aku nakal.

Terimakasih, Bu Hernita, rotan itu bukan hanya melukai tanganku. Tapi juga berhasil memukul keras batu yang ada di hatiku.

Beliau selalu memanggilku "Adi" kalau aku sedang tidak bermasalah. Tapi saat aku berbuat salah, beliau akan menyebut namaku "Aadii !" Dengan sangat keras.

Baca Juga : Baik Buruknya Perbuatan Manusia tergantung dari Niat Didalam Hati


=========

Bu, Pak, tahukah anda?
Hanya anda yang tahu karakter anak-anak anda. Bagaimana bisa anda lepaskan tanggung jawab kepada gurunya di sekolah? Tapi anda menahan hak didik bagi mereka atas anak anda.

Bu, Pak, pikirkanlah, apakah mungkin seorang guru tiba-tiba memukul siswanya tanpa kesalahan?

Bu, Pak, mereka menggunakan tangan untuk menjewer. Tapi mereka menghabiskan setengah hidupnya untuk keberhasilan anak anda.

Saat anak anda menjadi dokter, anda berkata dengan bangga, "ini anakku, menjadi dokter karena kerja kerasku!"

Bu, Pak, pernahkah saat anak anda pintar membaca, lantas anda berterimakasih, pada gurunya?
Saat anak anda pandai menghitung, pernahkah berpikir untuk mendoakan gurunya?

Bu, Pak, kalian mengirim mereka ke sekolah, karena kalian tahu, mereka butuh seorang guru. Lantas, mengapa saat anak anda mendapat secuil cubitan, jeweran, lantas anda melaporkan gurunya ke polisi? Memenjarakan gurunya begitu saja.

Bu, Pak, anda tahu karakter anak anda. Pikirkanlah kenapa mereka di jewer, di cubit. Karena gurunya menyayangi mereka, memperlakukan mereka seperti anak sendiri.

Bu, Pak, aku bukan guru, tapi aku adalah korban kekerasan guru, dan aku bangga guruku bersikap keras terhadapku. Karena kalau tidak, maka aku tidak akan seperti sekarang.

Bu, Pak, tidak perlu membawa bingkisan untuk gurunya. Cukup hargai mereka, tundukkan kepala dan ingat bagaimana peranannya untuk masa depan putra dan putri anda.

Mereka guru, dengan tulus mendidik, tapi di rumah, anda memberi anak-anak dengan gadget, dan tontonan televisi yang tak bermoral. Lalu, anda menyalahkan guru ketika anak anda berperangai buruk.

Baca Juga :  Barangkali Hatimu bukan lagi Mengeras tapi Mati dalam Jasadmu yang Hidup

Kilau emas yang anda pakai itu, adalah hasil kerja keras penambang yang digaji tak seberapa.

Begitulah kerasnya kerja seorang pembentuk, karena seperti Itulah arti seorang guru sesungguhnya...

Bagaimana setelah membaca artikel Aku Korban Kekerasan Guru diatas? 


Buat kalian para wali murid dalam hal ini orang tua, jangan terlalu memanjakan anaknya jika berbuat salah, atau kalian akan menyesalinya dikemudian hari. Sudahlah, biarkan mereka bertanggung jawab dengan apa yang sudah mereka lakukan di Sekolah.

Saya yakin, jika dalam menghukum guru sudah mengerti kadarnya. Luka lebam, luka lecet, itu biasa, apalagi kalau anak laki-laki. Kecuali jika sudah keterlaluan, jika anak benar mendapat pukulan dari guru, atau guru melakukan tindak amoral, atau menganiaya. Ingat ya, aniyaya itu lebih parah, dari sebatas mencubit atau memukul dengan penggaris.

Kalau salah, ya kudu tanggung jawab dengan kesalahannya tersebut, hukuman juga harus dijalani, bukan malah menyalahkan guru.

Dan buat kamu yang masih sekolah, jangan nakal kalau tidak mau dihukum, nurut sama guru. Jika kamu membuat kesalahan, jangan takut kalau kamu mendapat hukuman, apalagi sampai lapor orang tua. Belajarlah bertanggung jawab. Oke!

Semoga bermanfaat 

  
Pustaka
Fp Andi Arsyil
Fp Dunia Muslimah
Jangan Lupa Tersenyum
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar