Skip to main content

Mbah Kartosalip, Tukang Nyamber namun Peduli Ekosistem

Mbah Kartosalip, Tukang Nyamber namun Peduli Ekosistem

Mbah Kartosalip, Tukang Nyamber namun Peduli Ekosistem - Karanganyar, Kebumen menjadi tempat ia hidup sampai sekarang usianya 92 Tahun. Banyak kisah menarik yang bisa diceritakan mengenai Karanganyar pada jaman dulu.

Beliau sendiri lahir pada tahun 1927, sedangkan merdeka dan mulai perubahan bangunan setelah tahun 45.

Kalau ngomongin karanganyar nanti dulu, soalnya bukan itu Babnya. Melainkan, saya mau masa jayanya mbah Kartosalip (pas masih muda). Memang saat berkunjung ke tempat Mbah Karto, Niat saya bertanya mengenai sejarah Karanganyar.



Cuma, ada satu obrolan yang membuat saya tertarik, yaitu tentang Nyamber.

Beliau bercerita, dulu menjadi tukang nyamber. Lalu What's the meaning of Nyamber?

Nyamber itu nyari ikan di sungai, tapi sungainya yang ada Kedungnya. Kedung itu, cekungan yang cukup dalam. Kalau tidak pandai berenang bisa kelelep, tenggelam dan bablas.


Baca Juga : Kisah Ayu, Pelajar SMK yang Berjualan Cilok untuk Bisa Hidup Mandiri

Nyamber itu, hampir kaya nyeser, tapi lubang jaringnya besar-besar, terus bambu yang buat pengikat jaring itu lebih tipis. Kalau seser kan lebih tebal.

Saat melakukan aktifitas nyamber, satu kaki digunakan untuk mengambangkan diri, kaki satunya untuk membuyarkan ikan, aduh apa ya bahasanya. Maksudnya, kakinya kecubruk kecubruk didalam air biar ikannya bubar dan naik. Disaat naik itu lah disamber sama Mbah Karto.

Bukan hanya kaki, tapi juga sambil menyelam juga.

Sayapun menanyakan, "nggak pakai kacamata mbah?". Mbah Karto jawabnya, "jaman dulu ya nggak kepikiran kacamata, langsung nyilem (menyelam) aja".

Sungai atau kali yang biasa jadi tempat nyamber di Kali Ketek, Kali Kemit, Kali Karanganyar. Waktunya terkadang malam hari.

Tapi jangan dibayangkan, kualitas air kaya sekarang, dulu mah jernih-jernih. Kalau sekarang tanpa kancamata, siap-siap rusak matanya. Soalnya buthek airnya.

Menariknya, menurut alasan beliau, jaring kenapa lubangnya besar-besar, karena dimaksudkan agar ikan yang kecil-kecil tidak ikut tertangkap. Yang tertangkap yang ukurannya besar-besar saja. Sambil beliau menunjukkan ukurannya, lebih besar dari jempol kakinya.


Baca Juga : Kekhawatiran Orang Tua Ayu, ketika Anaknya menjadi Viral di Sosial Media

Nah, brarti dulu lebih bisa menjaga kalau bahasa sekarang konservasi. Dengan hanya menangkap ikan yang besar saja, tanpa bawah sadar, sudah menjaga ekosistem sungai.

Kalau sekarang? semua ukuran ikan bisa tertangkap. Apalagi sampai pakai setrum maupun potasium.

Kejaaaammmm...!!

Keserakahan di era sekarang bener-bener sudah menjadi. Perusakan eko sistem secara masif terus dan terus terjadi. Walhasil, semakin sedikit ekosistem yang bertahan, apalagi penghuninya yang akan menyebar.

Apa itu tandanya orang dulu sama orang sekarang lebih punya hati orang dulu?? wallahu a'alam bishowab..



  

Oleh Yogi Permana
Jangan Lupa Tersenyum
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar