Banjir yang Hanya “Lewat”, Tapi Menyisakan Pesan Penting untuk DAS
Banjir datang dan pergi, warga tetap waspada. Pengelolaan DAS jadi kunci cegah risiko lebih besar
Atmosterku.com | Banjir yang Hanya “Lewat”, Tapi Menyisakan Pesan Penting untuk DAS - Saya berdiri di atas sebuah jembatan kecil, memandangi aliran sungai yang membelah perkampungan. Angin berembus pelan, membawa suara gemericik air yang terdengar tenang. Di bawah sana, seorang ibu pedesaan berdiri dengan pakaian sederhana, bahkan di beberapa bagian tampak sudah robek. Pakaian yang bagi saya begitu khas: pakaian “ngalas”, yang biasa dipakai ke sawah atau ke kebun. Sederhana, fungsional, dan penuh cerita tentang keseharian.
Saat itu, Pak Harnios dari IFCC bertanya kepadanya tentang banjir terbesar yang pernah terjadi di wilayah tersebut, terutama saat air sungai meluap. Ibu itu menjawab dengan tenang, seolah menceritakan sesuatu yang sudah biasa ia hadapi.
“Kalau banjir besar, airnya bisa sampai ke rumah yang di pinggir sungai itu,” katanya sambil menunjuk ke arah deretan rumah tak jauh dari bantaran.
Namun ia menambahkan, air biasanya cepat surut. Aliran sungai di kawasan itu tergolong lancar, sehingga banjir yang terjadi lebih seperti “banjir lewat”, menggenang sebentar, lalu menghilang.
Meski terdengar ringan, persoalan menjaga DAS (Daerah Aliran Sungai) tetap menjadi hal penting, menurut Pak Harnios disela-sela kunjungannya melihat aliran sungai di area hutan rakyat lestari Kostajasa, Pak Harnios menekankan bahwa perlindungan bantaran sungai tak cukup hanya dengan membangun struktur fisik seperti batu bronjong. Jika tata kelola vegetasi di sepanjang sungai tidak diperhatikan, upaya itu bisa menjadi sia-sia.
Penentuan jenis tanaman yang tepat untuk ditanam di tepi sungai, menurutnya, memegang peranan penting dalam menjaga kestabilan tanah dan mengurangi risiko erosi. Upaya konservasi bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi juga tentang keberlanjutan dan keseimbangan alam.
Di tengah percakapan itu, saya kembali memandang sungai yang mengalir tenang. Di balik ketenangannya, ada dinamika alam yang harus dijaga. Dan di sana pula, ada kehidupan masyarakat yang begitu dekat dengan sungai yang merasakan langsung manfaat sekaligus risikonya.
Saat itu, Pak Harnios dari IFCC bertanya kepadanya tentang banjir terbesar yang pernah terjadi di wilayah tersebut, terutama saat air sungai meluap. Ibu itu menjawab dengan tenang, seolah menceritakan sesuatu yang sudah biasa ia hadapi.
“Kalau banjir besar, airnya bisa sampai ke rumah yang di pinggir sungai itu,” katanya sambil menunjuk ke arah deretan rumah tak jauh dari bantaran.
Namun ia menambahkan, air biasanya cepat surut. Aliran sungai di kawasan itu tergolong lancar, sehingga banjir yang terjadi lebih seperti “banjir lewat”, menggenang sebentar, lalu menghilang.
Meski terdengar ringan, persoalan menjaga DAS (Daerah Aliran Sungai) tetap menjadi hal penting, menurut Pak Harnios disela-sela kunjungannya melihat aliran sungai di area hutan rakyat lestari Kostajasa, Pak Harnios menekankan bahwa perlindungan bantaran sungai tak cukup hanya dengan membangun struktur fisik seperti batu bronjong. Jika tata kelola vegetasi di sepanjang sungai tidak diperhatikan, upaya itu bisa menjadi sia-sia.
Penentuan jenis tanaman yang tepat untuk ditanam di tepi sungai, menurutnya, memegang peranan penting dalam menjaga kestabilan tanah dan mengurangi risiko erosi. Upaya konservasi bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi juga tentang keberlanjutan dan keseimbangan alam.
Di tengah percakapan itu, saya kembali memandang sungai yang mengalir tenang. Di balik ketenangannya, ada dinamika alam yang harus dijaga. Dan di sana pula, ada kehidupan masyarakat yang begitu dekat dengan sungai yang merasakan langsung manfaat sekaligus risikonya.
"Selama kita masih punya hati yang hidup, mari sebarkan kebaikan" www.atmosferku.com
