Skip to main content

Laboratorium biologi dan Penghuninya yang tak kasat mata


Laboratorium biologi dan Penghuninya yang tak kasat mata


Laboratorium biologi dan Penghuninya yang tak kasat mata - Kami para mahasiswa biologi salah satu perguruan tinggi ternama yang ada di Yogyakarta, memang sudah sangat terbiasa menghabiskan waktu di laboratorium, untuk menyelesaikan segala praktikum dan juga tugas dari dosen.

Sebelumnya, kemarin pagi kami memang habis melakukan acara praktikum di hutan kampus yang ada di seberang lab kami.

Kebetulan beberapa hari sebelumnya ada hujan besar yang menyebabkan salah satu pohon besar yang ada dalam hutan itu tumbang.

Jadi ketika sedang mengambil data di hutan ada beberapa dari teman kami yang justru saat itu memanfaatkan keadaan pohon tumbang itu untuk berfoto selfie dan bermain-main di dekat pohon besar tersebut, meski sudah di ingatkan tetapi sepertinya mereka memang tidak terlalu peduli, dan itulah awal dari semua kisah.

Setelah selesai mengambil data dari hutan tersebut, kami memutuskan untuk kembali, tetapi kejadian aneh pertama adalah, parang yang kita bawa dan kita pakai untuk ambil data di lapangan tiba-tiba lenyap.

Kami sudah berusaha menyusuri hutan mencari di semua tempat ternyata tidak ada. Akhirnya kami pun mengikhlaskannya lalu kembali ke lab.

Cerita Horror lainnya : Suara Gending Jawa Terdengar di Kamar Kos-Kosan

Selanjutnya kami mengolah data hingga malam di lab, sebelumnya, semua berjalan normal, tapi setelah semakin malam kami tiba-tiba mendengar ada suara perempuan menjerit dan meminta tolong.

"Tolooooooong.... Toloooooong... Tolooooooong", dengan rintihan yang menyayat.

Awalnya kami hanya berpikir itu suara orang iseng, tapi ternyata lama-lama suara makin kencang dan tidak berhenti, akhirnya kami memutuskan mencari sumber suara, dan ternyata sumber suara berasal dari dalam hutan.

Kemudian kami mencoba memberanikan diri menyusuri hutan dengan penerangan seadanya, dengan segenap rasa takut, kami mencoba masuk ke hutan, kami memang merasa sangat takut, karena tahu beberapa tahun sebelumnya ada orang yang meninggal di dalam hutan tersebut.

Good News from Indonesia

Ternyata ketika kami sudah masuk dalam hutan, sumber suara itu sama sekali tidak terdengar. Justru kami menemukan ada sepeda yang tergeletak di tengah hutan. 

Mata-mata kamipun hanya bisa saling berpandangan penuh tanya dalam sunyi. 

Dimana angin berhembus dingin melewati bagian leher, yang secara sekejap membuat bulu kuduk pun berdiri, merinding! 

Kamipun menjadi semakin panik dan curiga, karena kami berpikir suara mbak-mbak minta tolong itu adalah korban kejahatan. Dikarenakan sebuah sepeda tergeletak di dalam hutan. 

Akhirnya kita melaporkan kejadian itu kepada petugas keamanan SKKK kampus, akan tetapi setelah mendengar laporan itu mereka justru hanya tersenyum saja dan menyuruh kami pulang. 

Karena kesal akhirnya kami memutuskan kembali ke lab. Anehnya ketika kami kembali, suara perempuan meminta tolong itu muncul lagi. 

"Toloooooong.... Tolooooooong..... Toooooloooooong....." 

Kali ini kami memang sudah agak cuek, sebabnya, sudah mencari sumber suara tapi tidak ditemukan. Tidak berapa lama kemudian akhirnya kami memutuskan untuk pulang. 


Keesokan harinya kami bercerita kejadian ini dengan salah satu kakak tingkat yang memang memiliki six sense dan dia hanya tersenyum dan mengajak kami kembali ke hutan. 

Ternyata dalam hutan sepeda tersebut tetap ada serta sudah tergeletak di sebelahnya parang kami yang hilang. Sepeda itu kini ada di dekat pohon yang tumbang beserta dengan parang kami yang sebelumnya hilang itu. 

Selanjutnya kakak tingkat kami menjelaskan bahwa penghuni yang ada di dalam hutan itu merasa terganggu dengan kedatangan kami, terutama teman kami yang berfoto-foto dekat pohon tumbang itu. 

Dan ternyata suara mbak-mbak menjerit minta tolong itu sudah sering didengar oleh para petugas keamanan, mereka awalnya juga panik sama seperti kami, tapi akhirnya mereka menyadari bahwa itu hanya suara dari dia yang tak kasat mata, sedangkan sepeda itu memang milik kampus yang dipinjam oleh mahasiswa tapi malah tidak dikembalikan dan disembunyikan di hutan. 

Saat itu juga masing-masing mendengarkan cerita sambil memegang leher, bulu kuduk merinding dalam sekejap. Saat itu, kami tak berani pulang larut malam dari Laboratorium. 

Cerita Horror lainnya : Saat Bersalaman Tangannya Dingin

Setelah mendengar penjelasan itu akhirnya kami pulang, kami masing-masing mulai menyadari bahwa dimanapun kami berada, ada kehidupan lain yang meski tak terlihat mereka juga ingin untuk kita hargai dan hormati.

  
Selamat membaca, dan jangan lupa bismillah
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar