Skip to main content

Pernah punya Celana Jeans

Ternyata Pernah punya Celana Jeans
Ternyata Pernah punya Celana Jeans - Siapa coba yang tidak punya celana jeans? hampir dipastikan anak-anak muda kekinian itu mengkoleksi celana ini. Bukan hanya yang kekinian saja sih sebenarnya, yang kalem juga punya.

Hampir tiap detik, saya melihat orang beraktifitas itu memakai celana jeans, mulai dari traveling, santai di rumah, berdagang, bekerja, dan masih banyak aktivitas yang lainnya. Kemudian saya melihat pada diri saya sendiri. Celana yang dipakai celana gunung, dan celana kain seringnya.

Apa tidak ingin memakai celana jeans? saya menjawabnya tidak.

Ada cerita yang ngledek banget, saat masih kuliah, saya kan ngekost. Kala itu, saya cukup akrab dengan pemilik kost beserta saudara-saudaranya.

Saat itu sore hari, biasa lah, kalau situasi kosan disore hari adalah ngobrol santai dengan penghuni kost lainnya. Dan, saudaranya ibu kost ikut nimbrung dalam obrolan.

Entah waktu itu ngobrolin apa, tapi tiba-tiba menyinggung celana jeans. Kemudian mata mereka tertuju sama saya.

"Ekh, kamu ko nggak pernah pakai celana jeans sih? keren lho", kata mereka.

Saya cuma melemparkan jawaban dengan tersenyum,

"woooo.... malah ngguyu? ngopo e nggak tau nganggo celono jeans? (woo...malah ketawa? kenapa sih nggak pernah pakai celana jeans?)", lanjut mereka mendesak.

"Yo ra popo tho, lah wong aku ra seneng ro celono jeans yoo (ya tidak apa-apah lah, lha saya tidak suka celana jeans kok)", sahut saya

Silahkan Baca :  Pelajaran Berharga dari Bapak Penjaga Angkringan

Tapi rasa penasaran membuat mereka terus bertanya sama saya,

"Wooo...pantesan nggak pernah liat kamu pakai celana jeans, emang kenapa tho?".

Setiap ada orang yang bertanya seperti itu, saya cuma mikir, apa sih enaknya pakai celana jeans. Ketat gitu, dan menurut saya berat. Jadi kalau berat ya sekalian aja celana gunung. Hehehehe...

Tidak bisa membayangkan, melihat wanita maupun laki-laki memakai celana jeans yang ketat. Hmm, apa tidak susah saat mereka mau buang air. Hehehe..

Apalagi mereka yang udah ceking pakai celana jeans yang ukuran panjangnya 3/4 kaki. Tapi tetep pede, aduuuh... tambah kelihatan cekingnnya laah. Belum lagi kalau sholat, saya sering menjumpai, laki-laki bercelana jeans di shaf depan saya, pas ruku', addduh, pantatnya keliatan, jujur saja itu mengganggu konsentrasi saat sholat berjamaah.

Jadi tolonglah, bagi pengguna celana jeans, kalau mau sholat, ikat pinggangnya dikencangin terlebih dahulu. Kalau tidak ya, baju dimasukkan, guna nutupi aurat saat sholat berjamaah.

Selain itu, menurut kesehatan juga tidak baik menggunakan pakaian atau celana yang terlalu ketat,  

Akh, sudahlah, itu urusan mereka, lanjut lagi pada pertanyaan dari saudara Ibu Kost. Kenapa saya tidak suka celana jeans.

Ya, karena alasan ribet itu sendiri, dan saya termasuk penganut mazhab yang suka memakai celana longgar, dan berbahan kain. Hehehe..

Buat saya, memakai celana dari bahan selain jeans, seperti celana kain maupun celana gunung, membuat saya lebih merasa pede, yang terpenting lagi adalah rasa nyaman. Saya memakai pakaian lebih ke nyaman, bukan gengsi atau mengikuti mode.

Jadi ya, saya tidak begitu mempunyai banyak baju maupun celana. Kalau boleh membocorkan, saat ini saja celana saya tidak lebih dari 7 buah. Kalau baju ya ada lah, tapi tidak terlalu banyak, wong baju juga yang dipakai yang itu-itu saja. Hahaha...

Jelas sekali bukan seorang fashionista, atau yang memperhatikan betul-betul tentang pakaian. Eits, tapi juga masih memperhatikan kesantunan dan kondisional yaa.

Bahkan kalau ada yang bayar saya suruh pakai celana jeans sekalipun saya tidak mau. Hahaha...

Mereka juga melanjutkan pertanyaan, "apa iya kamu itu nggak pernah punya celana jeans?"

Yah, saya jadi bercerita deh. Jangan salah ya, saya pernah punya celana jeans, tapi bisa dihitung jumlahnya. Sampai sekarang ini, saya cuma punya 2 celana jeans, warna hitam dan warna biru.

Saya memakai celana jeans, saat masih SD, tapi saya lupa kelas berapa. Celana tersebut dibelikan ibu saya pas lebaran, itu yang celana warna hitam. Sayangnya, celana tersebut cuma saya pakai sekali doank, cuma pas lebaran waktu itu saja. Setelahnya cuma mengendap di lemari.

Endingnya, celana jeans hitam itu saya kasihkan sama tetangga, karena dari pada menuh menuhin lemari, lebih baik kan diwakafkan. Malah lebih berfaedah.

Celana jeans yang kedua berwarna biru, itu juga saya dapatkan karena dibeliin Ibu pas lebaran. Meskipun modelnya beda, yang biru lebih longgar, tapi saya tetep tidak suka. Otomatis, nasib jeans biru pun sama dengan jeans hitam. Setelah sehari dipakai, mengendap di lemari.

Akhirnya, dari pada menuh-menuhin  lemari, akhirnya jeans biru tersebut saya jual. Saya jual ke tetangga saya, yang kebetulan temen saya juga. Waktu itu, dibeliin Ibu harganya 80.000 terus saya jual 50.000 karena udah setahun lebih tidak saya pakai. Hahaha..

Waktu itu sih seneng banget dapat 50.000, bayangannya ya lumayan bisa buat main PS sampai marem. Haddew parah!

Meskipun di almari saya sekarang ini sama sekali tidak ada celana jeans, tapi ternyata saya pernah punya celana jeans, dan pernah memakainya juga.

Waktu itu bukan karena masalah agama yang melarang pakai pakaian ketat, melainkan karena saya tidak nyaman dengan pakaian ketat, juga tidak menyukai serat bahannya. Dan itu sampai sekarang, saya bersyukur tidak memperoleh kenyamanan tatkala memakai jeans. Sehingga saya tidak perlu repot-repot berusaha menjauhinya.


Tulisan ini tidak menyuruh para pembaca untuk menjauhi celana jeans ya, ini hanya catatan saya dengan celana jeans. Kalau para pembaca nyaman dengan celana jeans, silahkan pakai saja. Cuma, saran saya, pakailah celana jeans yang longgar saja, jangan yang ketat.


  

Penulis: Yogi Permana
Hasil dari Aktivitasmu juga ditentukan oleh kenyamanan pakainmu
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar