--> Skip to main content

Sosial Media memang Diciptakan untuk Pamer, Kadar Noraknya saja yang Membedakan

Sosial Media memang Diciptakan untuk Pamer, Kadar Noraknya saja yang Membedakan

Sosial Media memang Diciptakan untuk Pamer, Kadar Noraknya saja yang Membedakan - Apa benar sih kalau sosial media itu hanya untuk sebatas pamer? sepertinya sih memang iya. Coba ada berapa juta foto yang telah terupload, maksudnya foto selfie, yang lagi disinilah yang lagi disanalah, yang lagi makan ini lah, yang lagi makan itulah, yang lagi beli inilah dan yang yang masih banyak lagi.

Tidak cuma pamer barang dan pamer lagi dimana, tapi juga pamer kemesraan. Kalau yang sudah jadi pasangan halal sih masih lebih baik dari pada udah bukan pasangan sah, tapi pamer kemesraan dan meledek kawannya yang single.

Sampai detik ini pun saya sejujurnya masih berpikir akan perkara itu. Sosial media hanya sebatas untuk pamer saja.

Bukan sesuatu yang dianggap tabu kalau melihat apapun yang diupload orang lain itu akan kita sukai. Lebih buruknya akan kita anggap itu sebagai Pamer saja.

Bisnispun ada kadarnya dalam hal pencitraan, malah dianggap pamer saja. "Baru segitu sudah pamer segala". Padahal, yang punya bisnis tersebut hanya sebatas ingin berbagi pengalaman saka melalui postingan di sosial media. Ya, namanya juga manusia, yang dikaruniai akal, sehingga daya tanggapnya pun berbeda-beda.

Silahkan Baca : Biarpun Ia Sahabat Kita Sendiri Sekalipun, Ia Tetap mempunyai Wilayah Pribadi

Membahas sosial media itu hanya untuk pamer atau tidak, saya tertarik dengan tulisan dari akun facebook yang bernama  Santy Diliana, Ia menuliskan dengan judulnya "Pamer."

Tulisan menarik, serta mempunyai makna yang bisa jadi motivasi buat kita semua akan bisa lebih bijak lagi dalam memanfaatkan sosial media untuk kebaikan kita, bukan malah menjerumuskan kita. Bukan cuma sebatas pamer atau gaya-gayaan, melainkan cara bagaimana kita mengemas postingan sosial media agar tidak selalu terlihat pamer. Istilahnya, pamer yang elegan. Bukan Alay...

Untuk itu, kita sendiri juga mesti berlatih dalam hal kontrol emosi ketika akan posting di sosial media. Jangan langsung su'udzon ketika ada orang lain yang upload foto.

Berikut ini tulisan Ibu Santy, dengan pendapatnya bahwa sosial media adalah media untuk pamer namun kita sendiri yang mau pamer secara elegan atau norak.

Postingan foto dan resep masakan yang oleh sebagian orang dianggap hanya pamer belaka itu, mungkin bagi mereka yang lain bisa jadi inspirasi, di kala otak sedang kehabisan ide menyusun menu harian untuk keluarga.

Postingan foto dan pengalaman wisata yang oleh sebagian orang disebut pamer itu, mungkin bagi mereka yang lain, bisa jadi inspirasi tujuan untuk perjalanan selanjutnya, atau penyejuk mata di tengah kepenatan. Setidaknya bisa ikut menikmati keindahannya, meski belum mampu mengunjunginya.


Silahkan Baca : 11 Pertanda matinya hati, maka Segeralah Sadari Secepatnya Sebelum Semua Terlambat


Postingan berbau dakwah dan agama yang disebut pamer atau riya itu, mungkin bagi yang lainnya bisa jadi pengingat dan motivasi untuk memperbaiki diri.

Postingan soal anak yang dikatakan pamer itu, mungkin bagi sebagian lainnya bisa jadi sumber ilmu, karena menjadi orang tua tidak ada sekolahnya.

Juga yang terbaru, soal postingan foto-foto keluarga di Hari Raya yang dianggap hanya pamer dan pencitraan belaka. Tidakkah terpikir bahwa mungkin saja, bagi yang lainnya, justru bisa menjadi pengobat rindu, atau sarana berkabar dengan kerabat dan sanak saudara?

Jika ada yang bilang bahwa foto yang diunggah di media sosial hanyalah 1 sampai 60 detik kehidupan seseorang, di antara puluhan ribu detik lainnya yang tidak dipublish, saya jelas sependapat.

Namun, jika kemudian ada yang merasa berhak menghakimi bahwa tujuan menampilkan foto-foto indah itu sebenarnya untuk mengobati keseharian si pengunggah yang kurang harmonis, padahal dia sendiri tidak tahu keadaan yang sebenarnya, ya nanti dulu ....

Siapa sih kita? Sehingga merasa berhak menjudge kehidupan orang lain hanya dari satu atau dua foto di media sosial?

Oke, saya tahu tujuannya memang baik, mengajak orang lain untuk fokus pada kebahagiaan masing-masing. Tetapi, tidak bisakah kita mengajak orang lain untuk berbahagia tanpa perlu menghakimi kebahagiaan orang lain?

Begini, saat kita nyinyirin orang lain yang pamer dan melakukan pencitraan di media sosial, bukankah di saat yang bersamaan, sebenarnya kita juga sedang pamer dan melakukan pencitraan?

Iya, pamer bahwa diri kita lebih baik, karena tidak suka pamer serta pencitraan seperti orang lain.

Nah, pusing nggak tuh? Sama kok, saya juga pusing. 

Jadi, intinya apa nih?

Intinya, yuk kita belajar melapangkan hati.

Kita tidak bisa mengatur atau melarang orang lain untuk posting apapun. Yang bisa kita lakukan adalah mengatur bagaimana reaksi kita saat melihat postingan orang lain. 

Silahkan Baca : Sosial Media menjadi Sarana untuk Pamer

Saya pernah baca kalimat ini, entah di mana saya lupa : salah satu tujuan diciptakannya media sosial adalah untuk pamer, yang membedakan cuma kadar noraknya aja. Ada yang bisa pamer dengan elegan, ada yang sebaliknya.

Tetapi tetap saja, senorak apapun postingan orang lain, selama tidak merugikan kita, ya kenapa harus kesal? 

Jika kita merasa belum mampu mengendalikan dan mengatur reaksi diri, ingatlah, ada tombol unfollow, unfriend, bahkan block yang bisa dimanfaatkan. Atau sekalian saja tutup semua akun media sosial agar tidak perlu lagi geram melihat orang lain pamer ini dan itu. Rasanya hal tersebut lebih baik, daripada terus-terusan memupuk iri dan dengki dalam hati. :)

#TantanganJuniFORSEN 

Bagaimana setelah membacanya? langsung kerasa ya, selama ini kita lebih banyak nyinyir karena upload-an orang lain. Apalagi jika itu tidak sesuai dengan pengetahuan yang ada diotak kita. Langsung deh, dinyinyirin habis.

Silahkan Baca : Membedakan kata TIDAK MENYANGKA dalam Artian yang Negatif dan Positif


Seperti yang sudah bu Santy uangkapkan diatas, bahwa kita tidak bisa melarang orang lain untuk posting apapun, melainkan kita sendiri yang harusnya memfilternya. Bisa tuh dengan cara unfollow (tidak mengikutinya) jika malah membuat kita selalu berburuk sangka.

So, bijaklah dalam bermain sosial media.


  

Doa kami, Semoga rezeki berlimpah untuk sobat semua hari ini. Aamiin
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar